Tangis

Aula itu riuh orang anak SMU yang saling bercerita dan berbicara. Sang Ibu, yang menjadi pemateri utama hari itu,  mengucapkan salam pembuka, aula tetap riuh. Beliau sampaikan materi satu persatu dan aula masih riuh, celetukan terdengar di sana sini. Ketika slide materi sampai di satu titik, keriuhan itu perlahan reda, kemudian senyap. Slide terus berjalan, menampilkan bagaimana sakitnya menjadi korban bullying, bagaimana efek dari pemnbully-an tersebut terus berlanjut hingga dewasa, membentuk pribadi yang rapuh, mudah tertekan atau sebaliknya, mudah marah dan bertemperamen tinggi kemudian menjadi penindas.

Waktu terus merayap, kembali terdengar suara dari aula yang bermenit sunyi. Kali ini bukan celetukan, tapi isak dari tiap anak yang hadir. Mata-mata mulai menggenang, tetes demi tetes mulai menurun mengalir pipi. Anak laki-laki diam, mulai bersembunyi dibalik tangan, menunduk tanpa berani mengangkat kepala. Saya yakin mata mereka juga memerah dan menggenang.

Continue reading

Jubah

Konon, seorang yang terus menjaga kebeningan hatinya dapat memantulkan cahaya-Nya sehingga dapat menembus segala sekat dan kepekatan hati mereka yang dihadapan-Nya, tentu dengan seizin Sang Maha Pengasih. Dan demi bertemu sosok yang demikian, seorang santri  rela menyusur jalan sebuah desa, berdesak menaiki angkot yang tak pernah sepi, becampur dengan belanjaan dan orang.

Tiba di tempat tujuan, santri tersebut mendapati desa kecil dan jauh dari kota. Di satu halaman rumah, dia melihat seorang kakek sedang menyapu rumput bekas tebasan, berpakaian kaus oblong yang sudah basah oleh keringat. “Assalamualaikum, numpang tanya Pak. Saya sedang mencari rumah Kyai A, apa Bapak bisa beritahukan saya?”

Continue reading

Tukang Bual

Suatu hari, seorang murid Dzun Nun datang menghadap. Dia adalah salah seorang murid teladan, berpuluh tahun puasa, berpuluh tahun tak pernah tinggal tidur di malam hari, dan juga berpuluh tahun tidak pernah merasakan kenyang.

“Guru yang mulia” ujarnya memulai percakapan, “Setelah semua yang aku lakukan ini, Sang Kekasih tak pernah mengucapkan sepatah kata pun kepadaku, tak pernah kurasakan Dia memandangku walau sekilas. Dia tak pernah memperhatikanku, apalagi mengungkapkan rahasianya. Semua yang kulakukan tadi bukan untuk membanggakan diri. AKu hanya menyatakan demikianlah yang terjadi. Aku juga tidak mengeluh kepada-Nya, aku hanya ingin menyatakan bahwa aku sudah serahkan seluruh daya upayaku untuk mengabdi kepada-Nya. Aku ceritakan ini karena rasa bosan untuk patuh kepada-Nya terus meningkat dalam hatiku. Yang aku takutkan adalah selama sisa hidupku yang tidak seberapa ini, hasilnya akan tetap sama. Berulang kali ku ketuk pintu pengharapan, tapi tak sekalipun pernah ku dengar jawab.

Karena sekarang aku makn sulit bertahan, maka aku pun mengahadap kepadamu. Karena Anda adalah dokter mereka yang terluka hatinya dan yang berkuasa memberikan obat bagi para orang suci, aku mohon berikan obat bagi kesengsaraanku ini.”

Dzun Nun memandang muridnya kemudian berkata, “Sekarang, engkau pulang dan makan sampai kenyang. Jangan lakukan sholat Isya dan tidur saja semalaman. Siapa tahu kalau Sang Teman itu tidak mau menunjukkan diri-Nya dalam kelembutan, Dia berkenan menunjukkan diri-Nya dalam kekesalan; jika Dia tidak mau memperhatikanmu dengan pandangan sayang, siapa tahu Dia berkenan memandangmu dengan pandangan kesal.”

Si murid mengikuti saran Sang Syeikh. Dia makan sampai kenyang malam itu. Hanya saja, hatinya tidak memperkenankannya meninggalkan sholat Isya. Jadi. setelah sholat Isya dia tidur. Dalam tidur, dia bermimpi melihat Rasulullah. “Kekasihmu mengirimkan salam untukmu” ujar Rasul dalam mimpinya, ” Dia berfirman kepadaku (untuk disampaikan kepada sang murid), ‘Yang disebut banci itu adalah mereka yang datang ke hadirat-Ku tapi demikian cepat puas. Akar jawaban dari masalah ini adalah menjalani hidup sesuai syariat dan tidak pernah mengeluh. Sang Maha Kuasa menyatakan bahwa Aku berikan apa yang diinginkan oleh hatinya selama empat puluh tahun ini; Aku kabulkan semua yang dia harapkan dan kuberikan semua yang dia inginkan. Tapi sampaikan kepada Dzun Nun si tukang bual itu bahwa kalau Aku tidak mempermalukannya di hadapan seluruh kota, maka Aku bukan Tuan-mu. Biar dia tak lagi pernah membohongi para pecinta-Ku yang tiada berdaya dan menjauhkan mereka dari diri-Ku.'”

Sang murid terbangun dari tidurnya dan berurai air mata. Pagi itu dia langsung menghadap Dzun Nun dan menceritakan mimpinya, termasuk pesan dari Rasulullah. Ketika mendengarkan kalimat, “Allah mengirimkan salam untuk Anda dan menyatakan Anda tukang bual.” dia terguling sambil menangis penuh bahagia.

Disadur dari  Muslim Saints and Mystic, an epishode for Tadzzkiratul Auuliya

Untukmu Bukan Untuknya

Badrus teman kami yang sekarang menjadi dai kondang malam itu datang bertandang di pengajian. “Lagi santai” katanya kepada guru kami. Suasana menjadi semarak dengan kehadiran beliau, selain berpengatahuan luas, dia juga pintar melucu dan memang sudah bertampang lucu. “Ente diem aja lucu” kata kami mengomentari kelucuannya.

Obrolan mengalir dan sampai pada berbagai masalah agama dan dakwah. “Abah haji” kata Badrus, “saya heran dengan perangai beberapa dai sekarang yang gampang sekali mencela dan menegur orang di depan umum. Kalau debat sampai panas-panasan. Saya memang akui, beberapa dalil yang mereka sampaikan itu ada dasarnya, ada madzhabnya, ada pemikirannya. Tapi masalahnya kadang negornya itu kayak nga memperhatikan situasi dan kondisi. Jam’ah ane ada yang cerita bagaimana pemakaman orang tuanya berubah jadi ricuh karena salah seorang saudaranya menyalah-nyalahkan praktik yang selama ini dilakukan. Maksud saya, kalau memang salah khan bisa tunggu sampai kedukaan berangsur pulih baru diajak dialog baik-baik.”

Continue reading

Tuan

Setelah bertobat dari pekerjaan lamanya, Habib Al-Ajami mendedikasikan hidupnya bagi Allah semata. Beliau beribadah sepanjang hari di tepian Eufrat. dari pagi dan baru pulang ke rumah ketika sudah malam. Sehari, dua, tiga, empat hari berlangsung dan terus bersambung hingga kemudian kondisinya menjadi semain miskin. Istrinya di rumah mulai meminta uang belanja karena persediaan pangan di rumah sudah mulai menipis . Dalam kebingungan, dia menjawab permintaan sang istri “Sabar ya Bu…saya lagi bekerja dengan seorang Tuan yang amat pemurah. Demikian pemurahnya dia, aku jadi malu untuk meminta upah terlebih dahulu. Dia berjanji akan memberikan upah kepadaku setelah 10 hari bekerja.” Jawaban tersebut dapat menenangkan istrinya.

 

Hari pun berlalu demikian cepat. Hari kesepuluh pun tiba dan Habib masih belum mendapatkan pekerjaan dan hanya dapat beribadah di tepian sungai tersebut. Setelah sholat di malam itu, dia kebingungan. “Apa yang bisa aku bawa ke rumah malam ini? Apa yang akan aku katakan kepada istriku? demikian dia membatin.

Sementara itu, di saat yang sama, terdengar ketukan di pintu rumahnya. “Siapa?” tanya sang istri. Dari luar terdengar jawaban seorang muda, “Saya utusan Tuan-nya Habib mengantarkan upah dan bahan makanan untuk beliau.” Sang istri membuka pintu dan mendapatkan para kuli berjajar membawa gandum, minyak zaitun, daging dan lain sebagainya. Di depan mereka seorang muda yang tampan tersenyum seraya memberikan kantung uang, “Di dalam kantung ini terdapat 300 dirham perak. Jika Habib pulang sampaikan pesan Tuan kami kepadanya, ‘semakin rajin dia, maka kami akan lipatgandakan apa yang kami berikan malam ini.” Setelah selesai menurunkan barang dan menyerahkan uang, rombongan itu pamit.

Tak lama kemudian, Habib mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Wajahnya kusam, pikirannya kacau. Perasaannya ditekan malu dan dipalu sedih karena tak bisa menepati ucapannya kepada sang istri. Dia memutuskan untuk berterus terang saja malam ini, apa pun resikonya. Ternyata, belum lagi dia membuka suara, sang istri sudah menyambut dengan lembut, mengusap wajah kusamnya dengan kasih sayang; sementara bau masakan menguar sedap dari dapur mereka.

“Sayang,” kata sang istri, “tadi ada utusan dari Tuan tempatmu bekerja. Dia mengantarkan bahan makanan ini dan sekantung uang perak. Dia benar-benar amat dermawan. Beruntung dirimu bekerja dengannya.” Habib masih terpana mendengarkan perkataan itu dan istrinya menyambung, “Ah ya, dia berpesan begini: Katakan kepada Habib, semakin rajin dia, maka kami akan lipatgandakan apa yang kami berikan malam ini.”

Terpesona dengan semua itu, Habib Al-Ajami berkata, “Luar biasa, aku hanya bekerja 10 hari dan Dia berikan semua ini. Bagaimana jika aku bekerja lebih keras dan lebih lama lagi?” Sejak saat itu, dia berpaling seluruhnya dari dunia dan hanya mengabdi bagi Allah semata.

Disadur dari: Habib Al-Ajami dalam Tadzkirat Al Auliya, Syeikh Fariduddin Atthar

Continue reading

Perkosaan = Perzinahan?

Tags

Pendahuluan

Kita tersentak oleh kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun (14), warga Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu yang terungkap pada Mei 2016 ini. Kasus ini menjadi sorotan nasional bukan hanya karena karakteristik tindak pidana yang terjadi yaitu perkosaan dan pembunuhan, tapi juga pelakunya yang berjumlah 14 orang dan sebagian merupakan pemuda di bawah umur telah dapat melakukan tindakan kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Terlepas dari beberapa tindak pidana yang terkandung dalam kasus tersebut tulisan ini mencoba menyorot pandangan pidana Islam terhadap perkosaaan. Sebagian pendapat menyatakan bahwa perkosaan diklasifikasikan sebagai perzinahan dan karenanya diklasifikasikan dalam perzinahan dengan paksaan. Benarkah demikian?  Bagaimana dampak dari pengkategorian ini dari aspek hukum pidana Islam?

Continue reading

Buah Surga

Di suatu masa, ada seorang wanita yang menginginkan Buah Surga. Begitu mendambakannya, sehingga dia pergi menemui seorang sufi pengelana bernama Sabar.

“Bagaimana caranya aku dapat menemukan buah ini, sehingga dengan memakannya aku bisa mendapatkan ilmu laduni?”

“Saran terbaik adalah Anda belajar kepada saya” kata sang sufi. “Tapi jika Anda tidak ingin melakukan hal tersebut, maka Anda harus bersungguh-sungguh berjalan ke seluruh penjuru alam.”

Sang wanita tersebut meningglaknanya dan mencari yang lain, Arif sang Bijak, kemudian menemui Hakim Sang Suci, lalu Majzup Si Gila, Alim Sang Ilmuwan, dan masih banyak lagi….

30 tahun dihabiskannya dalam pencarian tersebut. Pada akhirnya, dia sampai ke kebun yang dicari-cari. Disana berdiri sebatang Pohon Surga dengan dahan yang menjuntaikan Buah Surga. Tepat disamping pohon tersebut, berdiri Sabar, sufi pertama yang ditemuinya.

“Mengapa tak engkau beritahukan kepadaku saat pertama kali kita bertemu bahwa engkau adalah Penjaga Buah Surga?” tanya sang wanita.

“Karena jika aku melakukan hal tersebut, anda tidak akan mempercayai saya. Lagi pula, pohon ini hanya menghasilkan satu buat tiap tigapuluh tahun tiga puluh hari.” Jawab sang sufi.

Sumber: http://theunboundedspirit.com/10-sufi-stories/

Yang Menyerahkan Jiwanya

Hari itu, sebagaimana biasa, Rasulullah sedang berbincang dengan para sahabat ketika seorang wanita dari bani Ghamidiyah datang menghadap. “Ya Rasul, saya sudah berzina” akunya kepada Rasulullah. Seakan tidak mendengar atau mempercayai perngakuan tersebut, beliau bersabda. “Pulanglah” . Sang wanita tadi pulang untuk kembali ke esokan harinya dengan pengakuan yang sama. “Ya Rasulullah, aku benar sudah berzina dan aku mohon Engkau berkenan mensucikan diriku.” Dan Rasul masih menjawab, “Pulanglah”.

Continue reading

Yang Salah Yang Marah

Malam itu kami sedang bekendara santai. Jalan ramai lancar, tidak begitu macet, ketika tiba-tiba terdengar suara nyaring dari samping mobil. Kami terperanjat dan sang supir kontan memberhentikan mobil. Dari bangku belakang terlihat jelas spion mobil menjuntai patah, rupanya dari arah berlawanan ada sepeda motor berusaha menyalib tapi salah perhitungan, menghantam spion, oleng, nyaris jatuh dan akhirnya berhenti.

Kedua penumpangnya turun. Menghampiri mobil kami dan dengan kasar menggedor jendela. “Turun !” teriak salah seorang diantaranya, tak ada muka penyesalan di raut wajah kedua orang berseragam loreng tersebut. Bapak yang ada disebelah saya, menggapai sang supir yang hendak keluar dengan raut muka kesal. “Ndi,” katanya tenang, “biar saya saja.”

Bapak tadi keluar dengan tenang. Belum sempat bicara, kedua ksatria tadi langsung memaki dengan kata kasar, meminta pertanggungjawaban. “Lho, nak…bukannya kalian yang menyerempet mobil saya. Mobil saya spionnya patah lho”
“Gak bisa begitu, Bos !! Supir situ yang bawa mobilnya nga becus.” nada suaranya tetap tinggi, matanya tetap menyala marah.
“Begini saja” kata si Bapak tenang, “saya minta maaf karena kelalaian supir saya. Kita sudahi sampai disini sajalah.”
“Brak !!” sang pengemudi motor menggebrak kap mobil kami. “Enak aja Bapak mao menyudahi begitu saja. Ganti ruginya mana? Memangnya Bapak nga liat siapa kami ini” suara sang penabrak makin meninggi. Orang-orang menonton saja, tak berani mendekat. Pada zaman itu, siapa yang berani dengan para kesatria?

Sampai disitu, si Bapak berubah sikapnya. Wajahnya yang tenang mulai menegang. Tatap matanya menajam. Suaranya menegas. “Saya tau siapa kalian. Kalian dari kesatuan ini, markasnya disini, komandan kalian namanya si Joko. Benar?!”
Kali ini giliran kedua orang itu yang bengong, sikap garang mereka mereda, “Bapak siapa?’ tanya mereka dengan suara yang berubah jauh.

Si Bapak meraih dompet dan mengeluarkan selembar tanda pengenal. Begitu membaca, kedua kesatria tersebut langsung menegak, mengambil sikap siap dan berteriak, “Siap, Pak. Mohon maaf kami tidak mengetahui”. Wajah mereka pias. Butiran keringat mulai mengalir, keringat dingin ku rasa. Mata mereka meredup malah cenderung takut. “Saya sudah mengetahui nama kalian. Pulang ke barak, Lapor komandan kalian. Minggu depan siap-siap pindah tugas ke Timur Timor atau Papua. Pilih saja yang kalian paling suka.” Suaranya makin tegas. “Siap.” keduanya menjawab dengan suara yang bergetar, seperti orang hendak menangis.

Ketika si Bapak masuk lagi ke mobil, saya bertanya, “Memang Bapak benar mau memindahkan mereka?”
“Ya Ndak, Nak.” katanya. “Biar mereka kapok. Bikin malu angkatan aja. Mereka kira karena pake seragam lalu mereka bisa seenaknya dengan orang biasa. Harus diajar mereka itu. Saya malu sama masyarakat kalau banyak prajurit seperti itu.”
“Mohon dimaafkan ya Nak kejadian malam ini, memang kadang kopral itu lebih jendral ketimbang jendralnya sendiri.” tutupnya kepada saya.
Saya tersenyum. Malam itu, saya baru saja diundang berceramah di rumah anaknya dalam tasyakkuran dan sedang dalam perjalanan pulang. Beliau salah seorang sosok kesatria dengan tiga bintang dipundak yang saya kenal ramah, rendah hati, dan santun dengan orang lain.

~~Cerita ini terinspirasi dari cerita seorang sahabat dalam perjalanan pulang dari pekerjaan, enam belas tahun silam, dengan perubahan pada percakapan, peristiwa, dan nama. Semoga menjadi bermanfaat,~~

 

Rindu

Ketika Rasulullah pertama kali bertemu dengan Jibril a.s, yang menyampaikan wahyu pertama, beliau kembali ke rumah dalam kondisi gemetar, kedinginan dan ketakutan. Ledakan spiritual itu bahkan terasa mengagetkan bagi manusia pilihan seperti beliau. “Selimuti aku” pintanya kepada sang istri tercinta. Sayyidah Khadijah r.a. melakukan apa yang diminta oleh Rasulullah. Kemudian dengan kasih dan sayangnya, beliau yakinkan sang suami bahwa apa yang dilihatnya itu pernah dilihat oleh para Nabi sebelumnya. Dan kemudian sejarah bergulir, Muhammad bin Abdullah menjadi utusan Allah dengan Sayyidah Khadijah termasuk yang paling awal mengakui kenabian dan kerasulannya, tanpa ragu, tanpa tanya, hanya cinta dan yakin.

Continue reading