lawHukum Islam itu asik. Bayangkan saja, selain wajib dan haram, kita diberikan gradasi hukum; ada sunnah yang berpahala jika dilakukan dan tak mendapat dosa ketika ditinggalkan; ada mubah yang artinya boleh dikerjakan; ada makruh yang sebaiknya ditinggalkan tapi tak mengapa jika memang ingin dilakukan. Gradasi ini menimbulkan fleksibelitas luar biasa dalam penerapan hukum Islam. Tujuannya? Agar tidak memberatkan umat dalam melaksanakan dan dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi dan situasi yang unik untuk tiap individu.

Adaptasi dan fleksibelitas luar biasa diajarkan langsung oleh Allah dalam berbagai firman-Nya. Kebolehan menjamak dan menqasar sholat bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh merupakan salah satu contoh. Begitu pula kebolehan berbuka bagi yang sakit dan dalam perjalanan. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah sendiri mengajarkan fleksibelitas tersebut dalam berbagai kasus, seperti dalam kasus dipebolehkannya tayammum untuk menggantikan mandi junub karena sulitnya mendapatkan air atau kondisi badan yang tidak memungkinkan.

Sayangnya, kadang kita terjebak dengan pandangan “makin berat makin banyak pahalanya” dan “makin ketat maka makin sempurna suatu ibadah”. Pandangan yang membuat seakan Allah amat butuh dengan ibadah hamba-Nya; padahal yang amat membutuhkan ibadah dan segala macam ritual itu adalah hamba-Nya; bukan Dia yang suci dari segala ketergantungan. Lebih jauh lagi, tanpa disertai dengan pemahaman akan fleksibelitas hukum, pandangan tersebut dapat ditunggani nafsu sehingga membuat diri menjadi merasa lebih baik dalam beribadah ketimbang orang lain; merasa harus beribadah dengan ketat tanpa menimbang kondisi dan situasi; dan kemudian secara tak langsung menolak kemurahan dan kasih sayang Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang dicurahkan melalui berbagai pemakluman dalam pelaksanaan hukum. Semoga Allah berkenan menambahkan ilmu dan pemahaman kepada kita semua.

Advertisements