Note:

Tulisan ini adalah saduran dari kitab: Fathul Qarib al-Mujib fi Syarhil al-Faadz at-Taqrib karya Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Qasim bin Muhammnad al-Ghazi (1455—1512 M/859—918 H). Dengan demikian, seluruh yang ditulis dalam kitab ini adalah pandangan/fatwa fiqh dari madzhab Syafi’i saja.

Karena saduran, maka apa yang ada dalam tulisan ini bukan merupakan terjemahan murni dari kitab yang bersangkutan (sudah tercampur dengan bahasa dan pemahaman dari penerjemah/penyadur). Dengan segala kerendahan hati, saya mohon diinformasikan jika ada kesalahan pemahaman atau penerjemahan dalam karya ini.

Semoga bermanfaat dan silahkan disebar tanpa perlu izin kepada saya. Wa’allhu ‘alam bi shawab.

A.K. Anwar

PANDUAN SINGKAT TENTANG PUASA

Dalam bahasa arab, kata puasa ( ash-shoum) berarti menahan. Makna ini berkorelasi dengan terminologi hukum puasa yaitu:

Menahan diri sepanjang siang hari dari segala yang membatalkan dengan melafalkan niat tertentu oleh seorang muslim/ah yang sehat akal pikiran dan bebas dari haid dan nifas.

 

Ada pun syarat yang menjadikan seseorang wajib berpuasa adalah sebagai berikut:

  1. Beragama Islam
  2. Mencapai usia baligh
  3. Sehat akal pikiran
  4. Dan memiliki kemampuan melaksanakan puasa

 

Persyaratan tersebut membuat mereka yang disebutkan di bawah ini tidak wajib melakukan puasa Ramadhan. Mereka adalah :

  • Yang bukan beragama Islam;
  • atau yang belum mencapai usia baligh (dewasa; yang ditandai sudah bermimpi basah serta beberapa isyarat kedewasaan lain)
  • yang tidak sehat akal pikirannya karena sakit atau kondisi kejiwaan
  • yang tidak memiliki kemampuan melaksanakan puasa karena satu dan lain, baik medis atau yang lainnya;

 

Rukun puasa adalah sebagai berikut:

  1. Niat, minimal dengan melafalkan dalam hati atau melafalkan dengan lisan dan hati. Jika puasa yang hendak dilakukan adalah puasa pada bulan Ramadhan atau puasa karena nazar tertentu, maka niat tersebut harus dilakukan sebelum subuh. Pada puasa ramadhan, niat yang dilafalkan harus spesifik. Berikut ini adalah contoh niat yang sempurna:

Aku berniat puasa esok hari untuk melaksanakan puasa fardhu Ramadhan tahun ini karena Allah semata.

  1. Menahan diri untuk tidak makan dan minum dengan sengaja, walaupun hanya sedikit. Dengan demikian, mereka yang makan dan minum tanpa sengaja ketika berpuasa, maka puasanya tidak batal.
  2. Menahan diri dari melakukan hubungan suami istri dengan segaja.
  3. menahan diri dari muntah dengan sengaja.

Sedangkan berikut ini adalah daftar hal yang membatalkan puasa:

  1. Segala sesuatu yang masuk ke perut.
  2. Menyuntikkan sesuatu melalui anus atau penis
  3. Muntah dengan sengaja. Jika tidak disengaja, maka puasanya tidak batal.
  4. Melakukan hubungan seksual antara suami dan istri dengan sengaja
  5. Ejakulasi dengan sengaja. Dengan demikian, tidak termasuk di dalam yang membatalkan puasa ejakulasi akibat mimpi basah.
  6. Menstruasi
  7. Nifas
  8. Terganggu kejiwaannya
  9. Murtad atau keluar dari agama Islam

Ada tiga hal yang disunnahkan bagi orang yang berpuasa:

  1. Menyegerakan berbuka ketika waktu maghrib sudah diketahui dengan pasti. Jika masih ragu, sebaiknya tidak disegerakan.
  2. Mengakhirkan sahur. Pengakhiran ini harus diperhatikan agar tidak sampai masuk waktu akhir sahur dan awal subuh.
  3. Menjaga lisan dari segala yang dilarang oleh syariat.

Selain waktu yang diwajibkan bagi seorang muslim untuk berpuasa, ada pula waktu-waktu yang diharamkan berpuasa:

  1. Dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha
  2. Hari tasyriq yaitu tiga hari setelah Idul Adha (11, 12, dan 13 Dzul Hijjah)

Ada pula waktu yang makruh mendekati haram (Makruh tahrim) untuk puasa yaitu di hari transisi antara Bulan Sya’ban dan Ramadhan, di hari ke-30. Kecuali dia telah terbiasa berpuasa sunnah dan jatuh di hari tersebut atau berpuasa karena nadzar yang harus ditunaikan.

Beberapa kasus pelanggaran ketika berpuasa dan akibat hukumnya:

  1. Melakukan hubungan suami istri pada siang hari. Pelakunya harus mengganti puasa (qadha) dan membayar kafarat (denda). Denda yang ditetapkan adalah: (1) membebaskan budak; (2) berpuasa dua bulan penuh tanpa jeda; (3) memberi makan 60 fakir miskin dengan satu mud untuk setiap penerima. Denda ini bersifat hirarkal alias berurutan. Dengan demikian, jenis kedua hanya berlaku apabila yang pertama tidak dapat dilakukan dan begitu pula dengan jenis ketiga hanya bisa dilakukan ketika jenis pertama dan kedua tak sanggup dijalankan. Jika ketiga jenis denda ini tak satu pun yang sanggup dilaksanakan, maka kafarat ini menjadi tanggungan si pelaku hingga dia sanggup melakukan salah satu dari 3 jenis denda tadi.
  2. Mereka yang meninggal dengan hutang puasa akibat suatu uzur yang diperbolehkan oleh syariat. Seperti mereka yang terpaksa berbuka karena sakit dan belum sempat atau tidak bisa mengganti puasanya setelah itu hingga akhirnya meninggal dunia. Dalam kasus seperti ini, mereka tidak mendapatkan dosa dan tidak dikenakan denda (fidyah).
  3. Namun, apabila yang bersangkutan meninggal dengan hutang puasa BUKAN karena uzur syar’i, maka ahli waris harus membayarkan fidyahnya dari harta peninggalan sang mayit sebelum di bagi menjadi harta waris. Besaran fidyah yang harus dibayarkan adalah satu mud (675 gram atau 0,688 liter) untuk setiap hari. Pendapat ini adalah salah satu dari dua pendapat Imam Syafii berkaitan dengan kasus tersebut. Dalam pendapat lain, sang ahli waris boleh melakukan puasa pengganti untuk almarhum di luar bulan Ramadhan dan waktu yang diharamkan untuk berpuasa.
  1. Puasa bagi wanita yang hamil dan menyusui. Dalam kasus ini, jika ketakutan tersebut dikarenakan rasa takut mereka akan kondisi kesehatan mereka saja maka mereka boleh berbuka dan hanya diwajibkan mengganti puasa yang ditinggalkan. Jika mereka memilih untuk berbuka karena kekhawatiran atas janin atau bayi mereka, seperti takut akan keguguran atau air susu yang berkurang, maka mereka harus mengganti puasa yang ditinggalkan dan membayar kafarah berupa satu mud untuk tiap hari yang ditinggalkan.
  1. Orang yang sedang dalam perjalanan dan sakit. Bagi kedua orang yang berada dalam kondisi boleh berbuka atau membatalkan puasanya dan mereka harus mengganti puasa tersebut di kemudian hari.
Advertisements