Ini sudah hari ke sekian sang guru tak melihat muridnya. Biasanya, murid yang satu itu rajin datang, tak pernah lalai mengaji dan tekun. Kondisi tidak lazim ini membuat sang guru bertanya dan akhirnya memutuskan untuk memanggil sang murid di luar jam mengaji.
 
Ketika sang murid kemudian datang, sang guru menyambutnya dengan gembira. Setelah berbasa basi, sang syeikh masuk ke inti persoalan, “Anakku, mengapa engkau tak lagi datang ke majelis? Apakah aku pernah salah berbicara sehingga hatimu sakit? Jika demikian adanya, mohon maafkan aku yang lalai menjaga lidah ini”
“Bukan demikian, Syeikh” sang murid menjawab dengan terbata. Dia tak menduga ketidakhadirannya berujung kepada sang guru meminta maaf kepada dirinya. “Saya yang harus minta maaf karena beberapa hari ini tidak menghadiri majelis Anda. Saya hanya sedang menikmati pencerahan batin, Syeikh”
 

“Ah demikian” ujar sang Syeikh sambil tersenyum. “Boleh engkau berbagi pengalaman batinmu?”. Si murid sambil tersenyum bangga mulai menutur, “Beberapa hari yang lalu, saat saya sedang asyk berdzikir, tiba-tiba di hadapan saya muncul seorang syeikh bersurban putih dan berjubah hijau. Aura spiritualnya amat kental. Dia minta saya mengikutinya. Ketika saya mengiyakan permintaannya, saya berjalan besamanya menembus tembok kemudian tiba di suatu tempat yang luar biasa indahnya. Tak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Indah sekali.”
“Luar biasa” sang syeikh merespon, tetap dengan senyum. “Apakah Syeikh yang mulia itu memberikan syarat ketika mengajakmu ikut?”
“Dia hanya meminta saya untuk diam dan menikmati apa yang terpampang di hadapan mata.”
“Begitu…Baiklah. Malam ini, jika dia kembali datang dan mengajakmu, ikuti saja. Saya hanya minta, ketika sudah tiba di tempat yang luar biasa Indahnya itu, kau ucapkan tasbih.”
“Boleh saya tau alasannya, Syeikh” tanya sang murid
“Nanti kau akan tau setelah melakukan apa yang ku minta”
 
Malam itu, ketika dia sedang berdzikir, sosok itu kembali muncul dan mengajaknya pergi. Dia menurut dan mereka sampai di tempat yang lebih indah dari malam-malam sebelumnya. “Subhanallah” ucap sang murid sambil menikmati pemandangan yang ada. Tepat ketika mulutnya selesai berucap, pemandangan tersebut berubah menjadi gulita. Dia kemudian mendapati dirinya sedang duduk di dalam kandang babi di luar kota.Terperanjat dengan kondisi yang ada, dia langsung keluar dari kandang dan kembali ke rumahnya.
 
Subuh itu pula, dia langsung menghadap sang Syeikh. Belum dia sempat membuka mulut, sang syeikh dengan lembut berkata, “Sekarang kau sudah mengetahui apa yang terjadi?”
“Iya, syeikh” jawab sang murid sambil menunduk, “aku ternyata di bawa ke kandang babi”
“Dan kamu bingung mengapa bisa tertipu”
Sang murid hanya diam menunduk malu
“Yang datang kepadamu itu iblis, bukan orang alim. Dia samarkan dirinya dalam bentuk seperti itu karena kamu menilai orang berdasarkankan pengetahuanmu saja. Bahwa yang berpakaian seperti ini, beraura seperti ini, berbau harum seperti ini adalah ‘alim. Dan berdasarkan pengetahuanmu pula bahwa surga itu adalah tempat di mana segala keindahan yang ada di sana, tak dapat dilukiskan dengan kata.Sehingga hasratmu menutupi cahaya qalbumu.
Kau ditipu oleh pengetahuanmu sendiri sehingga demikian yakin dan lupa memohon petunjuk kepada Sang Maha Mengetahui. Dan karena itu, tutup sang guru, “Dia biarkan dirimu dalam tipuan tersebut dengan membuatmu lupa mengagungkan nama-Nya ketika melihat keindahan tiada tara.”
 
ya Allah tampakkan untuk kami kebenaran sejati dan anugerahkan segenap kemapuan dan kekuatan atas diri kami sehingga kami dapat mengikutinya; tampakkan untuk kami kebatilan sejati dan anugerahkan segenap kemapuan dan kekuatan atas diri kami, sehingga kami dapat menghindarinya ~Doa Umar bin Khattab r.a.
 
~~ Kisah ini diolah kembali tanpa menghilangkan esensi berdasarkan ingatan kepada salah satu kisah dalam Jami; Karamat Auliya karya Imam An Nabhani. Mohon koreksi pembaca jika memang perujukan ini tidak tepat.
Advertisements