Ubaidillah bin Ubay bin Salul, nama yang berkibat di daratan Yatsrib. Konon, demikian berpengaruhnya dia sehingga hampir menjadi raja di sana. Namun sinarnya tiba-tiba redup, harapannya untuk menjadi raja di daerah itu lenyap, ketika Muhammad SAW datang, membawa risalah baru dan mendapatkan sambutan dari seluruh elemen masyarakat. Sejak itu, dia mendedikasikan kebenciannya untuk Rasul dan Umat Islam, mewujudkan benci dan dengkinya dalam hasutan, fitnah, dan berbagai sikap musang berbulu domba lain.
 
Namun apa yang memiliki awal juga memiliki akhir. Setelah dia wafat, sang putra menghadap Rasulullah, menyamoaikan permohonan akhir sang ayah untk mendapatkan pakaian Rasul guna menjadi kafannya. Dalam kesempatan yang sama dia memohon dengan sangat kepada Rasulullah untuk menyolatkan sang ayah, “Jika Anda tidak berkenan menyolatkannya, tidak ada seorang muslim pun yang mau menyolatkan jenazahnya.” Rasul kemudian berkenan memberikan pakaian yang diminta dan mengimami sholat jenazah Ubaidillah. Umar yang menyaksikan semua itu tak lagi dapat menahan diri. Dia protes, “Rasul, Anda ingin menyolatkan orang yang telah mengatakan ini itu (fitnah, dusta, hasut dan seterusnya)?”

 
Rasul tersenyum dan menjawab, “Allah memberikan pilihan kepadaku dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah SWT memberikan kepadaku dua pilihan kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS at-Taubah:80) . Oleh karena itu, aku akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.”
 
Setelah beliau selesai menyolatkan, barulah Jibril datang membawa ayat, ““Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.” (QS. At-Taubah:84)
 
Imam Al-Razi dalam tafsirnya memberikan ulasan yang menarik terhadap peristiwa ini, ketika ada yang bertanya mengapa Rasulullah tetap menyolatkan Abdullah bin Ubay. “Ketika Abdullah memberikan wasiat kepada anaknya untuk memintakan pakaian Rasul untuk dijadikan kain kafannya,” jawab sang Imam, “Rasulullah menduga tindakannya tersebut mengindikasikan kembalinya dia kepada Islam. Dan berdasarkan dugaan tersebut, Beliau berniat untuk menyolatkannya sampai kemudian Jibril datang mengabarkan kepada Beliau bahwa Abdulllah meninggal dalam kondisi kufur dan munafik.”
 
Rasulullah, yang hatinya tanpa cela, yang memandang dengan padangan-Nya, mengajarkan suatu kaidah penting dalam perisitwa tersebut, “Kita menilai dari apa yang tampak, apa yang tidak tampak biarlah itu menjadi urusan Allah.”
 
Wallahu ‘Alam
 
Sumber:
Tafsir Mafatih al-Ghaib, Imam Fakhruddin Ar-Razi
Tafsir Ibn Katsir
Tafsir al-Qurthubi
Advertisements