Pagi itu tiba-tiba beliau mengeluh sakit, kemudian memutuskan untuk berbuka. Setelah itu beliau tak turun dari tempat tidur, badannya lemah tapi orangnya tetap tenang dan tetap tersenyum. Anak-anaknya akhirnya memanggil dokter untuk memeriksa. Sang dokter yang juga muridnya datang dengan tergopoh, memeriksa sang guiru kemudian mengerutkan alis. “Ustadz ini sehat-sehat aja” katanya, “nga ada yang serius”
“Hahahaha…kamu bisa aja, ini penyakit orang mau meninggal.” ujarnya sambil tersenyum. Walau diucapkan dengan tenang dan datar seperti itu, tak ada yang tertawa.
“Jangan begitu ustadz…istirahat aja ya. Insya Allah nanti baikan lagi.”
Beliau hanya tersenyum.
 

Tapi tak berapa lama kemudian kondisinya makin menurun. Keluarga makin was was. Murid-muird berkumpul. Beliau kemudian meminta mereka yang ada disekelilingnya membaca yasin. Dari kalimat guyonan tadi, keluarga mulai timbul was-was, ini perintah tidak biasa. Beliau juga minta jendela kamarnya dibuka lebar-lebar. Kecemasan kemudian berubah jadi kesedihan ketika kondisi beliau makin lemah. Walau demikian, beliau masih bisa membetulkan kesalahan mereka yang membaca yasin, masih berbicara dan meninggalkan beberapa wasiat.
 
Saat berbicara dan meninggalkan wasiat itu, putrinya melihat kaki sang ayah berubah jadi menguning, warna kemudian terus merambat naik, perlahan, terus ke atas. Sampai akhirnya ketika warna itu sudah mencapai atas dada, beliau berkata, “Kalian lihat, ini cara orang bersyahadat sebelum meninggal.” Beliau ucapkan dua kalimat syahadat dan kemudian “pulang”.
 
Hari itu, dibawah cuaca mendung, beliau dihantarkan ke peristirahatan terakhir oleh para murid dan keluarganya. Hari itu beliau mengajarkan bahwa kematian itu sesuatu yang indah, tak perlu ditakutkan dan pasti terjadi.
 
“Kau tau, nak…” tutup orang tua yang bercerita kepada saya, “setelah pemakaman selesai, mendung mendadak hilang, langit terang menderang dengan panas yang luar biasa”
 
~Sekelumit ingatan dari cerita seorang murid tentang gurunya yang hanya ustadz sederhana di sebuah kampung kecil di khatulistiwa
Advertisements