Kadir memang punya bakat khusus. Khusus karena bakatnya itu dalam bidang spiritual. Dia dapat dengan mudah bermeditasi, kuat berjam-jam menjalankan amalan dan ritual dari berbagai guru. Jadilah dia di usia muda sebagai jagoan di kampung, sakti. Untungnya dia baik hati. Yang kurang beruntung justru urusan jodoh dan pekerjaannya. Seperti daun talas, jodoh susah nempel, rejeki ogah mendekat.
 
Akhirnya setelah berkonsultasi dengan Imam, teman dekatnya, dia setuju untuk berkunjung ke salah seorang kyai sepuh. Setelah berbasa-basi dan mencicipi hidangan ala kadarnya, Kadir memberanikan diri untuk bertanya, “Mbah, saya mohon petunjuk. Mengapa jodoh dan rejeki saya seret banget ya?”
 

Sang Kyai tersenyum sambil memandang Kadir. Kemudian seyum tersebut makin mengembang dan menjadi kekeh kecil. “Maaf, maaf ya nak….ikhlas khan kalau saya bicara dan di dengar oleh temanmu itu?”
“Ikhlas, Mbah” kata Kadir mantab, soalnya usia sudah di kepala 3 lebih dan bokeknya sudah demikian menyiksa.
“Anak ngamalin apa?” tanya sang Yai lembut
“Saya cuma ngamalkan yang biasa aja Pak Yai” lalu dia menyebutkan beberapa amalan ringan yang biasa di baca.
“Oh ya, bukannya anak juga mengamalkan ini” ujar sang Kyai sambil membaca suatu ayat, “agar bisa melakukan ini?” sambungnya sambil mengambil benang yang kemudian menegak lurus seperti lidi tanpa ada yang memegang.
“Juga pernah mengamakan ayat yang bisa membuat Anak jadi begini” sambung sang kyai sambiil menyalakan korek ke tangannya yang dengan ajaib aman-aman saja, utuh tak terbakar.
 
Kadir diam, mukanya pias.Dia tau benar jika seseorang sudah dapat menyebutkan dengan tepat apa amalan dan ritual rahasia yang dijalankan plus mempertontonkan hasil yang dia sendiri belum bisa lakukan, maka orang itu sudah berada di level spiritual yang jauh dari dirinya.
“Nak…” kata sang Kyai, “kalau pun kamu mencapai tingkatan seperti itu, lalu untuk apa? Kalau kamu bisa menegakkan benang seperti lidi tanpa disentuh itu, apa ada manfaatnya buat kamu? Kalau kamu bisa kebal dengan segala macam senjata tajam atau api, memangnya tiap hari kamu masuk dalam kubangan api dan menyerahkan badan untuk dibacok? Coba bayangkan jika ada orang yang pamer seperti itu, kamu mungkin mendekat karena penasaran lalu perlahan menjauh. Bisa jadi karena bosan, bisa jadi karena takut. Begitu juga orang lain terhadap dirimu.”
 
“Sekarang sudah tau dimana salahnya?” tanya sang Kyai lembut
‘Sudah Yai”
“Mau memperbaiki diri?”
“Siap Yai”
“Siap memperbaiki diri dengan niat karena ALlah semata ya, bukan karena pengen dapat jodoh dan rejeki”
“Iya Yai”
“Alhamdulillah…sekarang pulang, banyak istighfar dan sholawat”
 
~~Cerita ini fiksi belaka walau ada inspirasi dari beberapa cerita nyata. Jika ada kesamaan nama , tempat, waktu dan plot, mohon dimaafkan.
Advertisements