Setiap orang di suatu waktu dalam kehidupanya mesti merasakan benturan dan cobaan dalam hidupnya. Demikian pula Badrus. Hidupnya baik-baik saja, anak bini sehat, tabungan masih cukup, kerjaan sudah mapan. Tapi akhir-akhir ini beliau makin intens belajar agama, ada ketertarikan yang semain kuat untuk mengkaji dan mengaji. Tapi semakin dia membaca semakin dia gelisah, sampai ketika dia bercerita, teman tempatnya curhat berkata, “Ente mao nga ikutan ane ke seorang alim. Kata orang, dia sudah sampai tahapan dapat “melihat” orang.”

“Itu kyai apa dukun?”

“Sembarangan ngomong. Beliau punya pesantren dan ngajinya kenceng. Khan ente udah baca sendiri haditsnya…hati2 dengan firasat orang mukmin, karena mereka melihat dengan cahaya ALlah.”

“Bener juga” pikirnya, nga ada salahnya dicoba.

Singkat kata dia iikut temannya ke pengajian kyai tersebut. Pengajian berlangsung meriah, sang kyai banyak bercerita, ramah dan halus. Dan sampai dia pamit, tak sepatah kata pun dari mulut sang kyai tentang dirinya. Hanya karena memang cara penyampaian dan materinaya menarik, dia kembali datang di minggu berikut dan minggu berikutny. Dan seperti biasa, tak ada satu pun perkataan sang kyai tentang dirinya, nasehatnya umum. Dia pun tak berani bertanya. Malu.

Akhirnya dia kembali curhat kepada temannya si pengajak tadi. Sambil tertawa, sang teman memberikan nasehat, “Selama banyak orang, jangan harap beliau akan menampakkan kekuranganmu. Itu bertentangan dengan syariat. Nga boleh. Bisa jatuh harga diri panjenengan. Begini saja, niatkan saja untuk mengetahui kekurangan diri ini karena ALlah semata. Lalu kita lihat bagaimana hasilnya nanti.”

Pengajian berikutnya, dia turuti saran temannya sebelum berangkat. Dan pengajian berjalan seperti biasa. Hanya saja, kali ini karena besok libur kerja, dia tak serta merta pulang ketika pengajian selesai. Dia lanjutkan mengobrol bersama tamu lain dan malam terus merangkak, menjadi semakin larut sampai akhirnya tamu pamit semua, Anehnya, malam itu tak ada tamu yang bertahan. Temannya yang mengantar sudah rebah, tidur dengan nyaman di pojok langgar. Hanya tinggal dia dan sang kyai saja.

Seperti biasa, sang kyai hanya bercerita kesana kesini sampai di suatu titip dia diam dan memandang lembut tamu di depannya. “Mau tanya apa sih?” katanya. Badrus masih diam, dadanya berdegub kencang. Mulutnya ingin menjawab tapi bibirnya tak mau membuka. Dia merasa tangan dan kakinya mulai dingin. “Duh, Gusti…berat sekali menanyakan kelemahan diri”. Tiba-tiba terdengar suara lembut di depannya bertanya, “Memang sudah siap? Ikhlas nga kalau nanti Allah bukakan untuk saya?”

“Siap, Yai” jawabnya pelan

“Ikhlas ya?”

“Ikhlas”

“Baik. Bismillahirrahman nirrahim” sang kyai memulai, dan setelah itu dia seakan melihat bioskop dirinya dibeber dengan demikian nyata. Dimana kelemahannya di sembunyikan. Dimana salahnya. Dimana terpelesetnya. Dan tak terasa air matanya mengalir deras. “Ah, sudah cukup. Jadi, sekarang panjenengan sudah tahu khan yang ingin diketahui. Sudah mengerti dimana salahnya? Jika sudah, mulai dengan istighfar. Berusaha mengubah diri menjadi lebih baik dan jangan lupa terus memohon agar Dia Yang Maha Pengasih meridhoi setiap langkah.

Kemaren-kemaren saya tidak membuka karena memang panjenengan belum siap. Jangan dikira mengetahui kelemahan diri sendiri itu mudah. Apalagi dari mulut orang lain. Jadi Allah juga Maha Mengetahui. Dia persiapkan dulu hamba-Nya dan ketika saatnya tiba, semuanya menjadi terang, semuanya menjadi hidayah bagi diri Njenengan.”

Subuh itu, dia pulang dengan dada lapang dan tekad bulat menjadi sosok yang lebih baik.

=== Kisah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat, mohon dimaafkan.

Advertisements