Hari itu Madinah basah oleh mata-mata yang menggenang. Dia yang namanya selalu disebut dalam setiap shalat telah berpulang untuk selamanya. Tak ada muka ceria, tak ada senyum, semua mendung.

Saat jenazah mulianya masih terbaring di rumah duka, Umar datang. Beliau masuk, membuka kain penutup wajah sang kekasih dan tak percaya beliau sudah wafat. Umar kemudian keluar, dengan suara keras dan tegas dia berkata, “Ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah SAW telah wafat. Tetapi demi Allah, sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, seperti Musa bin Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama 40 hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka setelah dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong!” Dia menolak kenyataan bahwa Rasul telah wafat. Cintanya membuat dia sulit menerima kenyataan yang ada.

Abu Bakar yang kemudian keluar dari rumah duka dan melihat Umar masih berkobar-kobar meneriakkan hal yang sama mendatanginya. “Sabar, Umar…sabar” ujarnya menenangkan sahabatnya itu, “Dengarkan!” sambungnya. Umar bergeming, nada suaranya tak turun, wajahnya makin mengeras, matanya semakin tajam.

Akhinya Abu Bakar, tanpa menunggu Umar berhenti, berpidato, “Saudara-saudara, barangsiapa mau menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa Muhammad sudah tiada. Tetapi barangsiapa menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tak pernah mati.” Kemudian beliau bacakan firman Alah, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144).

Selesai membaca ayat tersebut, orang-orang yang tadinya mulai terpengaruh oleh ucapan Umar seperti tersentak dari mimpi kembali ke kesadaran mereka. Umar, yang kegagahannya jarang tanding, jatuh pingsan mendengar ayat tersebut dibacakan. Dalam berbagai riwayat dinyatakan orang-orang pada hari itu seolah mendengar ayat baru diturunkan pada hari itu.

Syeikh Muhammad Muhanna, penasehat Syeikh Azhar, mengomentari peristiwa tersebut, “Sebenarnya, Umar bukan baru pingsan ketika mendengar ayat tersebut, tapi dia sudah pingsan ketika Abu Bakar mulai berpidato. Ayat tersebut, bukan baru diturunkan. Ayat itu sudah dibaca berulang kali. Akan tetapi ketika Abu Bakar membacanya, orang-orang seolah mendengarkan Nabi sendiri yang membaca ayat tersebut. Demikianlah kedudukan seorang shiddiq, mereka yang sudah mencapai kesejatian iman dan pemahaman. Jadi, bukan hal yang mengejutkan jika para ulama menyatakan bahwa As-Shidq itu levelnya satu tingkat setelah maqam kenabian karena Allah sendiri berfirman, ‘Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya’ (an-Nisa: 69) — dalam pengajian kitab Iqadzul Himam syarh Hikam Athaillah as-Sakandari, Halqah 1, Al Azhar Tv Channel, Youtube

Semoga cinta kita semua kepada ALlah dan Rasul-Nya membuat kita layak dikumpulkan bersama mereka di akhirat kelak. Amin.

Advertisements