Aula itu riuh orang anak SMU yang saling bercerita dan berbicara. Sang Ibu, yang menjadi pemateri utama hari itu,  mengucapkan salam pembuka, aula tetap riuh. Beliau sampaikan materi satu persatu dan aula masih riuh, celetukan terdengar di sana sini. Ketika slide materi sampai di satu titik, keriuhan itu perlahan reda, kemudian senyap. Slide terus berjalan, menampilkan bagaimana sakitnya menjadi korban bullying, bagaimana efek dari pemnbully-an tersebut terus berlanjut hingga dewasa, membentuk pribadi yang rapuh, mudah tertekan atau sebaliknya, mudah marah dan bertemperamen tinggi kemudian menjadi penindas.

Waktu terus merayap, kembali terdengar suara dari aula yang bermenit sunyi. Kali ini bukan celetukan, tapi isak dari tiap anak yang hadir. Mata-mata mulai menggenang, tetes demi tetes mulai menurun mengalir pipi. Anak laki-laki diam, mulai bersembunyi dibalik tangan, menunduk tanpa berani mengangkat kepala. Saya yakin mata mereka juga memerah dan menggenang.

Ketika sang Ibu guru mengakhiri materinya dengan doa, air dari mata yang tadi sudah mengering kembali mengalir, disertai suara amin lirih, agar Sang Maha Pengasih mengampuni tindak dan laku mereka, agar mereka diberikan kekuatan dan kemampuan untuk memaafkan tindakan teman mereka yang membuat hati mereka sakit dan berdarah-darah, agar kalaupun dipertemukan dengan orang yang kerap melukai hati mereka di masa muda, ALlah pertemukan dalam kondisi mereka dimuliakan lebih dari yang pelaku sebagai wujud bahwa doa yang teraniaya tak pernah ditolak oleh-Nya.

Saya beruntung dapat menyaksikan hal luar biasa tersebut. Ah, betapa kita sering tergoda membentuk anak menjadi sosok pribadi yang kuat, tegar, dan dapat berdiri tegak menantang setiap badai kehidupan. Hanya kerap lupa untuk membuat mereka mampu mengenali sisi gekap diri mereka, menerimanya, untuk kemudian berusaha mengubah diri menjadi lebih baik. Kerap tersilap, hati yang menangis itu penting agar hati yang ada tak membatu hingga tak mengenal malu, agar tak mengkristal sehingga tak mengenal sedih dan kesal orang lain dan diri sendiri. Jadi jangan heran jika saat ini banyak kita yang mengetahui Allah itu Maha Pengasiih dan Maha Penyayang, yang sering mendengarkan cerita betapa Baginda Rasulullah itu adalah sosok yang luar biasa kelembutan hatinya, tak mengenal henti ketika mencaci, tak mengenal empati ketika memberi ingat dengan kata yang menusuk hati dan mernedahkan diri. Semoga, Dia yang Maha Lembut melembutkan qalb kita dengan kash dan sayang-Nya sehingga dada kita selapang langit, seluas bumi, dan sedalam samudera. Amin.

Advertisements