Konon, seorang yang terus menjaga kebeningan hatinya dapat memantulkan cahaya-Nya sehingga dapat menembus segala sekat dan kepekatan hati mereka yang dihadapan-Nya, tentu dengan seizin Sang Maha Pengasih. Dan demi bertemu sosok yang demikian, seorang santri  rela menyusur jalan sebuah desa, berdesak menaiki angkot yang tak pernah sepi, becampur dengan belanjaan dan orang.

Tiba di tempat tujuan, santri tersebut mendapati desa kecil dan jauh dari kota. Di satu halaman rumah, dia melihat seorang kakek sedang menyapu rumput bekas tebasan, berpakaian kaus oblong yang sudah basah oleh keringat. “Assalamualaikum, numpang tanya Pak. Saya sedang mencari rumah Kyai A, apa Bapak bisa beritahukan saya?”

“Wa’alaikumsalam” jawab sang kakek sambil mengangkat kepala, memandang tamunya sejenak dan sambil tersenyum meneruskan, “waah, saya nga kenal dengan yang anak cari. Coba tanyakan ke pasar. Mungkin mereka mengetahui dimana rumah beliau.” Mendengar jawaban tersebut, si santri langsung pamit dan bergegas ke pasar. Sesampainya disana, dia bertanya kepada orang disana dan ternyata mereka semua mengenal sang Kyai. Salah seorang penduduk bersedia mengantarkan sang santri ke rumah sang kyai karena kebetulan jalur pulang ke rumahnya melewati rumah beliau. Dan betapa kagetnya sang santri, ternyata rumah yang dituju adalah rumah sang kakek yang tadi ditemuinya pertama kali. Dan tangannya mendadak dingin karena ketika diantarkan ke dalam, kakek tersebutlah kyai yang dimaksud. Hanya saja sekarang beliau menggunakan jubah, lengkap dengan surban dan duduk sedang membaca kitab.

“Silahlan masuk” sang Kyai mempersilahkan tamunya duduk. Setelah bercakap basa basi dan suguhan kopi telah dihirup, sang kyai memandang lembut tamunya. “Saya mohon maaf ya Nak, tadi bilang nga tau dengan orang yang dimaksud. Saya hanya merasa yang anak cari tadi bukan saya yang sedang menyapu tapi saya yang sedang menggunakan jubah, bersurban dan sedang menghadap kitab. Nah, sekarang saya sudah sesuai dengan harapan anak. Nga apa-apa khan? Hitung-hitung pelajaran pertama.”

Sang santri tak bisa menjawab, sekarang dia merasa pelutnya mulas dan mukanya panas. Untung yang mengantar sudah pamit sedari tadi dan hanya tinggal dia berdua saja dengan sang kyai. “Jangan malu, nak” ujar sang kyai menyambung, “semua orang pernah salah. Saya pun pernah memandang orang hanya berdasarkan jubahnya, kepintarannya, kemampuannya mendebat orang dan segudang atrbut lain.” “Nah, sekarang kita makan siang dulu, saya sudah lapar” tutup sang kyai dan sang santri hanya dapat mengiyakan, kali ini dengan lega bercampur senang karena perutnya sekarang berbunyi makin nyaring, pertanda lapar.

Note: Cerita ini fiksi belaka, jika ada kesamaan tempat dan alur cerita dan nama, mohon dimaafkan.

Advertisements