Suatu hari, seorang murid Dzun Nun datang menghadap. Dia adalah salah seorang murid teladan, berpuluh tahun puasa, berpuluh tahun tak pernah tinggal tidur di malam hari, dan juga berpuluh tahun tidak pernah merasakan kenyang.

“Guru yang mulia” ujarnya memulai percakapan, “Setelah semua yang aku lakukan ini, Sang Kekasih tak pernah mengucapkan sepatah kata pun kepadaku, tak pernah kurasakan Dia memandangku walau sekilas. Dia tak pernah memperhatikanku, apalagi mengungkapkan rahasianya. Semua yang kulakukan tadi bukan untuk membanggakan diri. AKu hanya menyatakan demikianlah yang terjadi. Aku juga tidak mengeluh kepada-Nya, aku hanya ingin menyatakan bahwa aku sudah serahkan seluruh daya upayaku untuk mengabdi kepada-Nya. Aku ceritakan ini karena rasa bosan untuk patuh kepada-Nya terus meningkat dalam hatiku. Yang aku takutkan adalah selama sisa hidupku yang tidak seberapa ini, hasilnya akan tetap sama. Berulang kali ku ketuk pintu pengharapan, tapi tak sekalipun pernah ku dengar jawab.

Karena sekarang aku makn sulit bertahan, maka aku pun mengahadap kepadamu. Karena Anda adalah dokter mereka yang terluka hatinya dan yang berkuasa memberikan obat bagi para orang suci, aku mohon berikan obat bagi kesengsaraanku ini.”

Dzun Nun memandang muridnya kemudian berkata, “Sekarang, engkau pulang dan makan sampai kenyang. Jangan lakukan sholat Isya dan tidur saja semalaman. Siapa tahu kalau Sang Teman itu tidak mau menunjukkan diri-Nya dalam kelembutan, Dia berkenan menunjukkan diri-Nya dalam kekesalan; jika Dia tidak mau memperhatikanmu dengan pandangan sayang, siapa tahu Dia berkenan memandangmu dengan pandangan kesal.”

Si murid mengikuti saran Sang Syeikh. Dia makan sampai kenyang malam itu. Hanya saja, hatinya tidak memperkenankannya meninggalkan sholat Isya. Jadi. setelah sholat Isya dia tidur. Dalam tidur, dia bermimpi melihat Rasulullah. “Kekasihmu mengirimkan salam untukmu” ujar Rasul dalam mimpinya, ” Dia berfirman kepadaku (untuk disampaikan kepada sang murid), ‘Yang disebut banci itu adalah mereka yang datang ke hadirat-Ku tapi demikian cepat puas. Akar jawaban dari masalah ini adalah menjalani hidup sesuai syariat dan tidak pernah mengeluh. Sang Maha Kuasa menyatakan bahwa Aku berikan apa yang diinginkan oleh hatinya selama empat puluh tahun ini; Aku kabulkan semua yang dia harapkan dan kuberikan semua yang dia inginkan. Tapi sampaikan kepada Dzun Nun si tukang bual itu bahwa kalau Aku tidak mempermalukannya di hadapan seluruh kota, maka Aku bukan Tuan-mu. Biar dia tak lagi pernah membohongi para pecinta-Ku yang tiada berdaya dan menjauhkan mereka dari diri-Ku.'”

Sang murid terbangun dari tidurnya dan berurai air mata. Pagi itu dia langsung menghadap Dzun Nun dan menceritakan mimpinya, termasuk pesan dari Rasulullah. Ketika mendengarkan kalimat, “Allah mengirimkan salam untuk Anda dan menyatakan Anda tukang bual.” dia terguling sambil menangis penuh bahagia.

Disadur dari  Muslim Saints and Mystic, an epishode for Tadzzkiratul Auuliya

Advertisements