Malam itu kami sedang bekendara santai. Jalan ramai lancar, tidak begitu macet, ketika tiba-tiba terdengar suara nyaring dari samping mobil. Kami terperanjat dan sang supir kontan memberhentikan mobil. Dari bangku belakang terlihat jelas spion mobil menjuntai patah, rupanya dari arah berlawanan ada sepeda motor berusaha menyalib tapi salah perhitungan, menghantam spion, oleng, nyaris jatuh dan akhirnya berhenti.

Kedua penumpangnya turun. Menghampiri mobil kami dan dengan kasar menggedor jendela. “Turun !” teriak salah seorang diantaranya, tak ada muka penyesalan di raut wajah kedua orang berseragam loreng tersebut. Bapak yang ada disebelah saya, menggapai sang supir yang hendak keluar dengan raut muka kesal. “Ndi,” katanya tenang, “biar saya saja.”

Bapak tadi keluar dengan tenang. Belum sempat bicara, kedua ksatria tadi langsung memaki dengan kata kasar, meminta pertanggungjawaban. “Lho, nak…bukannya kalian yang menyerempet mobil saya. Mobil saya spionnya patah lho”
“Gak bisa begitu, Bos !! Supir situ yang bawa mobilnya nga becus.” nada suaranya tetap tinggi, matanya tetap menyala marah.
“Begini saja” kata si Bapak tenang, “saya minta maaf karena kelalaian supir saya. Kita sudahi sampai disini sajalah.”
“Brak !!” sang pengemudi motor menggebrak kap mobil kami. “Enak aja Bapak mao menyudahi begitu saja. Ganti ruginya mana? Memangnya Bapak nga liat siapa kami ini” suara sang penabrak makin meninggi. Orang-orang menonton saja, tak berani mendekat. Pada zaman itu, siapa yang berani dengan para kesatria?

Sampai disitu, si Bapak berubah sikapnya. Wajahnya yang tenang mulai menegang. Tatap matanya menajam. Suaranya menegas. “Saya tau siapa kalian. Kalian dari kesatuan ini, markasnya disini, komandan kalian namanya si Joko. Benar?!”
Kali ini giliran kedua orang itu yang bengong, sikap garang mereka mereda, “Bapak siapa?’ tanya mereka dengan suara yang berubah jauh.

Si Bapak meraih dompet dan mengeluarkan selembar tanda pengenal. Begitu membaca, kedua kesatria tersebut langsung menegak, mengambil sikap siap dan berteriak, “Siap, Pak. Mohon maaf kami tidak mengetahui”. Wajah mereka pias. Butiran keringat mulai mengalir, keringat dingin ku rasa. Mata mereka meredup malah cenderung takut. “Saya sudah mengetahui nama kalian. Pulang ke barak, Lapor komandan kalian. Minggu depan siap-siap pindah tugas ke Timur Timor atau Papua. Pilih saja yang kalian paling suka.” Suaranya makin tegas. “Siap.” keduanya menjawab dengan suara yang bergetar, seperti orang hendak menangis.

Ketika si Bapak masuk lagi ke mobil, saya bertanya, “Memang Bapak benar mau memindahkan mereka?”
“Ya Ndak, Nak.” katanya. “Biar mereka kapok. Bikin malu angkatan aja. Mereka kira karena pake seragam lalu mereka bisa seenaknya dengan orang biasa. Harus diajar mereka itu. Saya malu sama masyarakat kalau banyak prajurit seperti itu.”
“Mohon dimaafkan ya Nak kejadian malam ini, memang kadang kopral itu lebih jendral ketimbang jendralnya sendiri.” tutupnya kepada saya.
Saya tersenyum. Malam itu, saya baru saja diundang berceramah di rumah anaknya dalam tasyakkuran dan sedang dalam perjalanan pulang. Beliau salah seorang sosok kesatria dengan tiga bintang dipundak yang saya kenal ramah, rendah hati, dan santun dengan orang lain.

~~Cerita ini terinspirasi dari cerita seorang sahabat dalam perjalanan pulang dari pekerjaan, enam belas tahun silam, dengan perubahan pada percakapan, peristiwa, dan nama. Semoga menjadi bermanfaat,~~

 

Advertisements