Dalam berbagai hal, penceramah dan pendakwah itu jauh perbedaannya. Para ulama besar dulu adalah para pendakwah ulung. Ketimbang mencerahami orang dengan segala kebijakan yang kemudian ditolak oleh yang mendengarkan, mereka memilih untuk mengajak orang mengenal dirinya dan sisi demi sisi dari ajaran Islam.

Berapa kali saya mendengarkan cerita tentang ulama yang datang ke suatu tempat sarang maksiat dan kemudian mentap disana. Setiap hari, beliau duduk di depan rumahnya, membaca kitab. Tak ada ceramah, tak ada teguran bagi para pemabuk yang ada disekitar rumah beliau. Hanya membaca kitab.

Setelah beberapa waktu kegiatannya bertambah, dari hanya membaca kitab sendiri menjadi mengajari anak-anak mengaji Qur’an. Baru kemudian setelah bertahun-tahun kemudian usaha kecil dan terlihat tak berarti tadi perlahan mengubah daerah tersebut. Kegiatan beliau sekarang bertambah menjadi mengajarkan mengaji kepada orang dewasa lalu kemudian berkembang menjadi pengajian rutin dan pada akhirnya daerah tersebut justru terkenal sebagai daerah santri, bukan daerah pemabuk dan pelacuran.

Beliau dan para ulama besar dengan kisah yang sama amat paham, bahwa mengubah hati itu tidak bisa dilakukan semata dengan hukuman dan ancaman; bahwa orang yang diajak untuk patuh juga harus diajak untuk merasakan kelembutan rahmat Sang Maha Pengasih.

Advertisements