Malam itu, Kyai Zaid datang bertamu ke rumah seorang yang telah menjadi gurunya selama beberapa tahun. Dia selalu datang ke tempat itu, minimal satu kali dalam satu bulan; bahkan lebih jika dia menemukan kesulitan dalam berdakwah atau mengajar. Namun, tidak seperti guru lain tempatnya menimba berbagai ilmu, disini dia lebih banyak bercakap tentang kehidupan dan hati. Tidak ada kitab; hanya ada kopi dan pengganan kecil.

Malam itu, seperti malam lainnya, percakapan mengalir lancar. Zaid bercerita panjang lebar mengenai kegiatannya dalam berdakwah. Berbagai orang yang ditemui, berbagai tantangan yang harus dilampaui, dan bermacam godaan yang dia temui. “Entar dulu, Ji (singkatan untuk kata Haji)…” tiba-tiba sang guru memotong ceritanya, “Emang ente lagi marah sama siape?”.

Zaid diam. Pertanyaan singkat tapi telak. Ingatannya melayang ke perdebatannya dengan seseorang yang berpandangan berbeda beberapa hari yang lalu. Perdebatan yang dimulai dengan santun tapi diakhiri dengan saling sindiran dengan panas–jika tidak dapat disebut saling caci. Dia memang bisa dibilang menang saat itu, musuhnya dia pojokkan sampai tak lagi bisa membalas argumennya, tapi hatinya masih panas kalau ingat peristiwa itu.

“Ente mao marah boleh. Namanya manusia kalo nga ada marahnya udah jadi malaikat. Tapi ente kudu ingat, amarah itu nga boleh disimpen di hati. Kagak bisa begitu urusannya, Ji.” ujar sang guru lembut tapi tegas, ‘Ente simpen tu amarah, sama aja ente membiarkan noda diatas cermin yang bersih. Lama-lama, noadanya makin banyak, cerminnya makin redup, kehilangan cahaya, dan bisa-bisa mati. Jadi, laen kali kalo ente debat dan ente udah merasa menang jangan ditambahin lagi dengan hinaan atau sindiran pedas sampe ente jadi malu dan merasa terhina. Kalo bisa dipelihara harga dirinye, rangkul die.”

“Tapi, Beh…”

“Walau kata die caci maki ente di depan orang banyak” potong sang guru sebelum Zaid sempat melanjutkan pembelaan dirinya. “Dan ini salah satu akibatnya, amarah yang ente simpan itu menghalangi cermin hati ente buat melihat kebenaran dari ape yang ane sampaikan tadi. Ente masih mao ngeles dengan bilang die duluan yang ngecap ente ahli bid’ah dan sesat di depan orang banyak. Iya, khan?”

Kali ini Zaid diem, mukanya pucat. Pasalnya, die nga pernah cerita peristiwa debat itu ke sang guru, apalagi niatnya untuk membantah dengan bilang kalau dia di caci maki duluan. Dan ingatannya melayang ke hadits Rasul, “Hati-hati dengan firasat orang mukmin, karena mereka melihat dengan Nur Allah”.

~~~Kisah ini fiktif belaka. Walaupun terinspirasi dari cerita nyata. Mohon maaf apbila ada kesamaan tempat dan waktu serta nama~~

Advertisements