Tags

, ,

BalonMalam itu, kami berlebaran ke rumahnya yang sederhana. Alunan shalawat terdengar jelas di rumah beliau. “Biasa, ada yang haul” katanya sambil mempersilakan kami sekadar mencicipi suguhannya. Dan obrolan pun mengalir, mulai dari kesibukan masing-masing, muktamar NU yang waktu akan dihelat, hingga kemudian sampai pada kegelisahan sebagian kyai sepuh yang kami dengar dari para murid kyai yang menjadi sahabat kami. “Ada keprihatinan dari sebagian kyai sepuh bahwa kecenderungan generasi sekarang untuk melihat tawasuf sebagai sesuatu yang harus dijauhi semakin meningkat” menyampaikan apa yang saya pernah dengar dari beberapa orang sahabat. Beliau menyimak dengan serius, kemudian diam.

“Mungkin, sudah zamannya” beliau membuka omong, “dulu syariat, tarekat, dan hakekat itu bagaikan tiga bagian dengan porsi seimbang dalam sebuah lingkaran. Dengan demikian, lingkarannya jadi penuh dengan sempurna. Itu gambaran para kyai dulu; syariatnya dalam, tarekatnya jalan, hakekatnya matang. Maka, ketika melaksanakan syariat, para kyai itu memeriksa adabnya. Adab dirinya, apakah dia melaksanakan syariat ini karena Allah atau karena nafsunya; adab terhadap orang lain: apakah orang yang menjadi obyek syariat itu sudah sah menjadi obyek atau dia melanggar karena terpaksa atau lain sebagainya; dan adab terhadap Allah yang menurunkan syariat tersebut seperti apakah yang akan disampaikan atau dilakukannya justru membuatnya menjadi tuhan baru,misalnyua. Baru setelah itu melaksanakan. Dengan demikian, apa yang mereka laksanakan atau ucapkan, tetap lembut, tetap tegas dan lugas, tapi tak pernah menyakiti. Dengan demikian, yang beliau sampaikan menjadi suluh bagi banyak orang.

Sekarang, dengan perkembangan dan dinamika kehidupan, keseimbangan tersebut berubah. Kesimbangan tiga bagian dalam satu ruang itu juga berubah. Porsi Syariat melebar besar, porsi tarekat dan hakekat menjadi semakin kecil. Lingkaran tersebut tak lagi sempurna; menggelembung besar di satu sisi. Orang merasa sudah paham Islam ketika sudah mempelajari syariat. Banyak yang merasa sudah menjaga ahlak ketika merasa sudah menjaga dirinya untuk tidak melakukan dosa-dosa besar. Sehingga dosa “sepele” seperti merendahkan orang, membanggakan diri sendiri, menyalahkan orang lain di muka umum, menjadi bukan “dosa.” Mereka tidak sadar bahwa justru kerikil kecil seperti itu yang sering membuat pejalan tersandung atau terpeleset, sehingga tanpa sadar mereka sudah masuk dalam kubangan nafsu. Ketika itu, syariat yang mereka miliki hanya jadi kendaraan untuk memuaskan nafsu mereka. Sungguh mengerikan.

Mbah Yai saya, Allah Yarham, pernah bilang begini kepada saya, ‘Tasawuf itu ilmu khusus, ilmu yang tidak dipertontonkan, yang hanya datang dan sampai kepada mereka yang mencari. Karena yang mencari itu adalah yang butuh.’ Jadi, bagaimana mereka akan merasa butuh jika sudah merasa cukup dengan kondisi seperti itu?” tutupnya prihatin.

Sementara itu, alunan doa juga sayup terdengar, menutup haul di malam itu.

 

 

Advertisements