Sebagaimana Allah jadikan  segala sesuatu berpasangan,  Dia jadikan juga syariat dg dua sisi. Satu sisi bersifat lahiriah,  mengatur berbagai aspek kehidupan muslim. Mulai dari ibadah hingga muamalat,  mulai dari pernikahan dan urusan keluarga sampai urusan pidana. Sifatnya mirip manual dan prosedural. Produk hukumnya lazim di kenal dg sebutan fiqh. Sisi yg lain justru jarang disebut sebagai syariat dalam pengertian hukum. Sisi ini lebih sering disebut sebagai akidah dan ahlak atau pelajaran tentang nilai kehidupan dan juga ketuhanan. Sasarannya jelas: diri, hati dan Allah. Walaupun demikian, keduanya memiliki satu titik perekat: sama-sama berkaitan dengan hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta: lahir dan batinnya.

Fiqh,  sebagai produk hukum, memiliki fleksibelitas yg amat tinggi dalam berbagai aspeknya. Dalam kondisi tertentu, berbagai hal yg tadinya diharamkan bisa menjadi Halal. Seperti kebolehan mengkonsumsi makanan yang tidak halal karena kondisi kelaparan yg mengancam jiwa. Sebaliknya, yg halal juga bisa berubah menjadi haram jika melanggar kondisi tertentu seperti makanan halal pemicu alergi mematikan yang sengaja dimakan karena satu dan lain alasan. Dalam Fiqh, juga terdapat konsep kemudahan dan keringanan sehinga sesuatu yg diperintahkan, misalnya, bisa mendapatkan pengecualian seperti keringanan menggabungkan sholat. Dan berbagai contoh fleksabilitas hukum lainnya.

Sebaliknya, dalam kasus fiqh batin, fleksibelitasnya justru amat rendah. Ketika kita dilarang untuk berbohong misalnya, maka larangan tersebut berlaku mutlak untuk diri kita ketika berhadapan dengan sesama muslim dan juga orang non muslim. Bukan hanya orang muslim saja. Saat seorang muslim dilarang untuk membuat fitnah,  maka itu berlaku untuk semua,  tanpa pengecualian; baik di medan perang atau di masa damai,  baik kepada sesama muslim maupun kepada non-muslim. Maka,  jangan heran jika tak ada satu pun hadits yg menyatakan Rasulullah pernah menggunakan kalimat kasar kepada mereka yg bahkan dengan nyata memusuhinya. Tidak juga kita temukan Rasulullah menghianati janji yg sudah beliau sepakati dg musuh. Mustahil kita temukan Beliau SAW, berkata bohong. Justru,  yg termaktub dalam berbagai kitab biografi Beliau adalah betapa santunnya budi bahasa Beliau ketika berbicara baik kepada sahabat maupun kepada musuhnya. Betapa lembutnya hati Beliau memberikan pengampunan. Betapa perhatiannya Beliau sehingga semua orang yg berbicara dengannya merasa paling diperhatikan. Demikian rendah hati Beliau tunjukkan hingga tak menghendaki para sahabat-Nya bangkit dari duduk hanya untuk menghormati Beliau. Dan masih demikian banyak contoh yg bertaburan dalam kitab kitab hadits maupun shirah Beliau.

Jika Allah dalam firmannya menyatakan, “Sembahlah Aku” atau “jangan engkau menyekutukan Allah” maka larangan tersebut bersifat mutlak, tanpa pengecualian bagi umat Islam. Ketika Allah di-imani sebagai Sang Pencipta, maka semua yang ada di dunia ini harus diyakini sebagai ciptaan-Nya; baik maupun buruk. Dan ketika salah satu Firman-Nya berbunyi, “Mintalah kepada-Ku maka Aku akan jawab permintaan-Mu”,maka dia yang tangisannya menggetarkan Arsy’ mengangkat kedua tangan, dengan badan gemetar  memohon kemurahan Penguasa Semesta di Perang Badr,  “Ya Allah, aku mohon janji-Mu kepadaku. Jika Engkau hancurkan tentara Islam, maka tak ada lagi yang mau menyembah-Mu di muka bumi ini.”

Jadi, lazimnya sesuatu yg berpasangan, penerapan syariat lahir tanpa pasangan batinnya dan juga sebaliknya, bisa jadi malah tidak menurunkan rahmat, tapi menjadi fitnah alias cobaan bagi dirinya dan orang lain. Sehingga jangan heran apabila ada yang meneriakkan syariat tapi tidak peduli dengan perasaan orang lain, tidak memandang orang lain berhak mendapatkan kasih sayang-Nya, dan merasa halal melakukan segala strategi asalkan ditujukan kepada yang bukan satu golongannya. Demikain pula, jangan heran jika ada ‘terpeleset’ dalam jalan spiritual karena tak memagari dirinya dengan syariat sehingga terperdaya oleh hawa nafsunya. Sebagaimana pernyataan Imam Malik r.a yang dikutip oleh Syeikh Amin al-Kurdi r.a”orang yang bersyariat tanpa hakekat itu telah fasik, dan orang yang berhakekat tanpa syariat itu telah zindiq” (Tanwir al-Qulub, hl. 408)

Advertisements