duitSetelah beberapa saat Ibu tercinta menyusul sang ayah, Tono berkeinginan untuk menyelesaikan urusan waris mewaris di antara saudara-saudaranya. Maka, malam ini dia panggil semua adiknya untuk berkumpul dan membicarakan masalah yang cukup sensitif tersebut. Dan pembicaraan malam itu langsung menghangat ketika salah seorang dari empat saudaranya (2 pria dan 2 wanita) menghendaki pembagian sama rata. Masalahnya, Tono mengetahui bahwa pembagian waris dalam hukum Islam memiliki prosedur dan rasio pembagian sendiri. Jadi, apakah usulan tersebut bisa dijalankan atau harus tetap menggunakan aturan yang ada?

Kisah diatas memang fiksi, tapi persoalannya nyata dan sering berulang dalam masyarakat kita. Tidak jarang satu keluarga retak atau bahkan pecah hanya perkara waris ini. Tidak sedikit yang kemudian berujung kepada perseteruan di pengadilan. Dan karena itu masalah ini menjadi topik bahasan diantara para pakar hukum, berkaitan dengan kemungkinan teks tersebut diijtihad dan kemungkinan mendapatkan terobosan hukum baru dalam masalah ini.

Sebelum membincangkan masalah tersebut, ada baiknya untuk memperhatikan hak dan kewajiban pria dan wanita dalam perspektif hukum Islam. Pria dapat menduduki beberapa tempat dalam hukum Islam, dia dapat menjadi seorang anak, seorang ayah, seorang suami, seorang paman, dan seorang kakek. Sedangkan seorang wanita dapat menjadi seorang anak, istri, ibu, dan bibi serta nenek. Apa pun peran tersebut, seorang pria mendapatkan tempat sebagai Imam dalam sebuah keluarga (QS An Nisa: 34) dan karena itu memiliki konsekuensi yang tidak sedikit, terutama dalam kaitannya dengan nafkah dan tanggungjawab keluarga.

Seorang pria yang sudah dewasa memiliki tanggung jawab memberikan nafkah kepada keluarganya. Ketika belum menikah dia wajib menafkahi kedua orang tuanya. Setelah menikah maka tanggung jawabnya melebar kepada anak dan istri. Sebagai paman, dia juga bertanggung jawab terhadap nafkah keponakannya yang yatim. Sedangkan seorang wanita tidak memiliki kewajiban apapun dalam urusan nafkah. Maka harta yang dia dapat menjadi utuh miliknya seorang dan dapat dipergunakannya sesuai dengan keinginannya. Oleh karena itu, dengan melihat dari besarnya tanggungjawab yang dipikul seorang pria dalam pespektif hukum, pembagian yang terlihat berat sebelah tersebut sebenarnya lebih menguntung wanita ketimbang pria.

Kembali ke pembagian waris. Para pakar hukum Islam menganggap perkara waris adalah perkara non-ijtihad karena pembagiannya diterangkan detail oleh Allah SWT secara langsung melalui al-Qur’an. Dengan demikian, besarannya menjadi baku. Tapi, kondisi tersebut bukannya tidak dapat di”siasati” sehingga pembagian waris “sama rata” menjadi mungkin dilaksanakan. Untuk pembagian waris sama rata maka yang harus dilakukan oleh ahli waris adalah:

  1. membagi terlebih dahulu seluruh harta waris tersebut sesuai dengan yang ditetapkan oleh syariat. Dengan melakukan ini, maka ahli waris terlepas dari kewajiban pembagian waris dan telah mengikuti apa yang disyariatkan oleh Allah.
  2. Kemudian, setelah semua ahli waris mengetahui besaran pembagian yang mereka miliki, mereka dapat melepaskan harta yang sudah menjadi hak mereka dan dihitung ulang agar terjadi keseimbangan dalam harta tersebut. Dalam proses kedua ini, mereka yang mendapatkan lebih akan menyedekahkan hartanya kepada mereka yang mendapatkan bagian lebih kecil. Dengan demikian, pembagian sama rata dalam urusan warisan dapat diselesaikan.

Prosedur ini juga berguna untuk menjaga hak setiap ahli waris. Sebab, sebagai manusia tentu tidak lepas dari berbagai urusan dan kepentingan yang bisa menjadikannya dalam posisi yang membutuhkan bagian tersebut. Ketika itu terjadi, maka ahli waris yang membutuhkan ini dapat menolak melepaskan harta yang sudah menjadi bagiannya tanpa paksaan dan tanpa harus melanggar syariat.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membaca. Wa’allahu’alam bi al-shawab.

Advertisements