Tanpa Takut

“Saya belum pernah takut berhadapan dengan siapa pun” katanya jumawa. Dibekali dengan tampang yang maskulin, ditambah kesenangannya pada bela diri dan laku spiritual pada usia muda, jadilah dia tumbuh sebagai seorang yang amat pemberani. Dan beruntungnya, dia baik hati walaupun kadang agak kurang sabar dalam menghadapi sesuatu.

Hari itu, seperti biasa, dia bercerita ke Bang Jul, guru ngaji sederhana di kampung yang biasa mengajar anak-anak. Dan saat itu, tidak seperti biasa dia mengisahkan banyak cerita ketika dia harus bekerja di pedalaman Borneo, bertemu dengan banyak orang yang juga sakti. “Mao mata merah dengan rambut berdiri pun saya hadapi, urusan menang kalah urusan belakang” katanya menutup rangkaian cerita itu.

“Hebat ya Sup” kata Bang Jul sambil menyeruput kopinya. “Tapi ilmu yang kau punya itu masih terlalu remeh” sambung Bang Jul, “tak ada apa-apanya”. Usup terkesiap, sontak darahnya naik. Dia yang tak pernah merasa takut merasa begitu diremehkan. “Ntar dulu, jangan keburu spaneng. Bukannya ente ngamalin ini dan itu? Dibaca sekian kali setelah puasa sekian hari? Ah ditambah dengan batu yang di”isi” sehingga membuat kebal. Ah ya masih ada lagi…”
“Tunggu dulu, Bang” suaranya berubah, sikapnya waspada. “Abang tau dari mana ini?”
“Allah yang kasi tau” kata Bang Jul santai. “Ah ya…Gimana kalau ane cabut semua yang ente punya? Nga bagus itu. Sikap ente jadi nga sabaran. Lagian itu amalan khan campur aduk, lama-lama saya khawatir ente malah nga bisa membedakan sehingga jadi musyrik.”

Mengetahui “simpanan” orang lain sebenarnya biasa di kalangan jawara seperti Ucup. Artinya orang yang dihadapannya juga “berisi”. Tapi perkataan “Allah yang kasi tau” dan tawaran mencabut semua itu benar-benar luar biasa. Menantang nyalinya dan membangkitkan amarahnya. “Coba aja, Bang kalo ente bisa sih. Ane mah ngikut aja. Tapi hati-hati ya kalo ada efek sampingnya, ane nga tanggung jawab.” Maksudnya “efek samping” itu kalau si pencabut nga selevel dengan dirinya dan terserang secara tidak sengaja.

“Oke” kata Bang Jul sambil melambaikan tangannya dengan santai ke dada Ucup. “Dah…selesai. Enakkan..badan jadi ringan” katanya sambil meneruskan kopi. Sementara muka si Ucup di depannya berubah pias, seputih kertas. Dia merasa seluruh “simpanan”nya tiba2 hilang tak berbekas. Dirinya kembali kosong. Berkali dia merapal dan mencoba, dirinya benar-benar kosong. Lemaslah dia. Dan dia tak percaya kalau Bang Jul cuma butuh melambaikan tangan saja untuk mencabut semua “isi”nya yang ditabung dengan bertahun-tahun tempaan spiritual.

“Jangan heran” kata Bang Jul lembut. “Saya ini nga bisa apa-apa. Tapi jika Sang Pemilik Kekuatan berkehendak apa yang tidak bisa terjadi. Sudah, jangan disesali. Anggap ini awal baru. ya”. Ucup hanya bisa menunduk malu.

~~Terinspirasi dari kisah nyata, diceritakan oleh salah seorang Alim~~

Advertisements