Seorang sahabat bercerita bagaimana perjuangan kyai kampungnya ketika beliau baru kembali dari belajar. Beliau dapati kampungnya sudah berubah jauh. Di depan masjid, para wanita menanti pelanggan, tanpa malu, tanpa risih, hingga orang menggunakan masjid tersebut sebagai panduan arah jika hendak menjemput. Tak ingin diam dengan hal tersebut, tiap malam selesai Isya beliau mengaji di depan masjid, membaca kitab dan seterusnya. Tak ada kata atau kalimat keras, tak ada teguran, tak ada kritikan. Hanya itu yang beliau yang lakukan tiap malam, dari selesai Isya sampai jauh tengah malam, dari hari berganti bulan. Dari yang tidak pernah di lirik sampai akhirnya mereka mulai menyadari ada orang yang mengaji. Dari mulai tak peduli sampai akhirnya risih sendiri. Perlahan, mereka yang terpaksa menjajakan diri itu menghilang dari depan masjid, para jamaah yang hendak berbenah diri mulai berganti datang.

Di tempat lain, di masa lain, seorang ustadz yang memiliki reputasi cukup baik di sebuah daerah bergabung dengan sebuah kelompok beraliran keras. Walaupun keras dalam menyikapi berbagai hal, kelompok ini diikuti oleh banyak mahasiswa dan pemuda. Di dalamnya, sang ustadz kemudian mulai sering bercerita tentang aliran pemikiran lain dalam dunia Islam. Tak ada teguran, tak ada kritik, tak ada cacian dari mulut beliau terhadap pemikiran kelompok tersebut. Di mulai dengan cerita, berlanjut dengan diskusi, sampai akhirnya beliau mengajak anggota kelompok tersebut untuk merasakan. Dan jadilah mereka bershalawat bersama, tahlil, mengadakan majelis dzikir dan seterusnya. Kekerasan yang terlihat jelas dari sikap mereka dahulu, perlahan mencair.

Saya yakin beliau-beliau itu menyandingkan “Sampaikan kebenaran walaupun pahit” dengan ayat “Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl [16]:125).
Mungkin pula, beliau-beliau itu merangkaikan sikap mereka dengan Firman-Nya kepada Nabi Musa a.s, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44) serta Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Allah Mahalembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim).
Karena keberanan itu terkadang amat pahit, maka butuh kelembutan hati untuk mengurangi kepahitan rasa di diri mereka yang hendak menerimanya.

Advertisements