—–Tanah—–

“Saya bingung Ustadz” kata Aman teman kami kepada guru ngaji kami, “saya sudah berusaha menjual tanah ini ke banyak pihak, tak satu pun yang tertarik. Saya bingung karena tanah ini sebenarnya letaknya bagus, ukurannya ideal, dan surat menyurat beres. Tapi kenapa nga ada yang mau ya?”
“Ente ngomongin tanah yang di jalan A ya?” guru ngaji kami merespon.
“Iya. Tanah dan bangunan di sekitarnya udah pada laku, tinggal tanah ini aja yang belum laku. Masalahnya, buat ngebebasin tanah ini aja, ane ngutang dulu. Udah mao jatoh tempo lagi.”
“Kenapa nga ente aja yang ambil? Kagak ade duit?”
“Ade sih, tapi mepet banget. Modal abis semua kalo saya yang beli. Sedangkan tanah khan Bang ustadz tau sendiri, susah lakunye”.
“Istikharah aja deh. Mohon kepada Allah gimana solusinya.” tutup guru ngaji kami petang itu.

Sebulan kemudian si Aman datang ke pengajian dengan muka cerah. Lantas dia bercerita, setelah istikharah, akhirnya dia putuskan membeli sendiri tanah tersebut karena petimbangan membayar hutang yang sudah jatuh tempo. Transaksi terjadi dan dia pusing karena modalnya habis. Seminggu kemudian, ketika dia menceritakan kisah ini kepada seorang sahabat lamanya, sang sahabat secara tidak terduga tertarik dengan tanah tersebut dan langsung menawar dengan harga yang lebih tinggi. Ternyata sang sahabat sudah menaksir tanah tersebut sejak satu tahun yang lalu tapi kemudian terlupakan karena belum ada rejekinya. Seminggu kemudian transaksi rampung, modalnya kembali utuh dan dia mendapatkan keuntungan. Mendengar ceritanya, semua mengucapkan hamdalah untuk transaksi tersebut dan juga untuk hidangan yang dia hadirkan bagi para jamaah pengajian.

“Kadang” kata ustadz guru ngaji kami, “Allah itu memberitahukan kehendak-Nya atas diri kita lewat peristiwa, isyarat, serta lisan orang lain yang kita temui, lihat, dan dengar. Masalahnya, kita seringkali kesulitan menangkap sinyal tersebut karena terhalang oleh nafsu sendiri sehingga butuh waktu lama atau sama sekali tidak menangkap isyarat demi isyarat tersebut.”

Advertisements