Kami sedang tertawa bersama selepas pengajian mingguan di musholla. Percakapan pun mengalir begitu saja ke berbagai topik, dari mulai urusan kampung sampai berita teman-teman. Dan kami kembali tertawa ketika teman kami, Bardan bercerita tentang saudaranya yang baru saja sembuh dari sakit berat. Tapi alih-alih mematuhi pantangan dari dokter yang merawat, dia malah melahap semua yang disukainya. Hasilnya, 3 hari kemudian doi kembali menghungi kamar lama di rumah sakit dan di jenguk oleh sang dokter yang memeriksa sambil geleng-geleng kepala.

“Katanya” Bardan menyambung cerita, “buat apa dipantang, toh nanti juga akan mati”. Dan kami kembali terkekeh mendengar alasan sederhana tapi ampuh seperti itu.

 

“Tapiii…” tiba-tiba guru kami angkat bicara setelah kekehan kami reda, “itu nga sepenuhnya bener. Kita semua khan mesti mati. Yang nga pasti itu gimana kondisi kita saat mati. Nah, karena Dia Maha Penyayang dan Pengasih, Dia berikan isyarat kepada kita bahwa masa-masa puncak kita sudah lewat dan senja sudah mendekat.

Isyarat itu bisa macam-macam bentuknya. Nga harus dia yang sakit berat, bisa jadi temannya yang sakit berat dan seterusnya. Dan, lazimnya isyarat, yang penting justru bukan bentuknya, tapi bagaimana reaksi yang mendapatkannya dan pilihan yang diambilnya terkait dengan isyarat yang dia dapat. Ada yang reaksinya adalah berusaha mencapai apa yang belum dicapainya, menikmati kembali apa yang paling dia sukai, menuruti hawa nafsunya seakan segala ingin dan hasrat tersebut harus tercapai dan terpenuhi sebelum dia “dipanggil”. Padahal, nafsu, dalam bentuk apapun tak akan terpuaskan karena dia seperti air laut; yang makin banyak diminum, makin makin haus yang meminum. Biasanya mereka ini malah semakin aktif urusan dunianya dengan alasan sebentar lagi juga “pulang”.

Yang laen, reaksinya adalah menangkap isyarat tersebut sebagai teguran Tuhan, membuka hatinya bahwa semua yang bermula pasti ada akhirnya. Ada pula yang reaksinya adalah merenung, mulai melihat ke dalam diri, mempertanyakan bekal yang selama ini sudah dikumpulkan, memperbaiki diri, memenuhi hak dan kewajibannya kepada orang-orang terdekatnya. Sehingga kurva aktivias duniawi dalam kehidupannya semakin menurun, perlahan mengimbangi kurva ukhrawi yang semakin menanjak. Dia akan menjadi semakin arif, semakin dalam pemahamannya terhadap kehidupan, dan semakin berkurang rasa takutnya terhadap kematian. Nah, kalian pilih yang mana?”

Dan kami diam membisu berusaha menyerap kalimat demi kalimat tersebut.

Advertisements