Tags

Bahasa arab dikenal sebagai bahasa yang kaya dengan kosa kata dan karenanya ada banyak kata yang dapat dipergunakan untuk satu hal (sinonim). Dalam pujian misalnya, bahasa arab mengenal setidaknya tiga kata sinonim: al-Madh (المدح) , al-Syukr (الشكر) dan al-Hamd (الحمد). Lalu, mengapa al-Qur’an menggunakan kata al-Hamd dan bukan kedua kata lainnya dalam permulaan al-Fatihah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita menelisik lebih jauh apa perbedaan antara ketiga kata tersebut.

Perbedaan antara al-Hamd (الحمد) dan al-Madh (المدح)

Imam Fakruddin al-Razi mengungkapkan perbedaan kedua kata ini sebagai berikut:

  1. Kata al-Madh (المدح) dapat dipergunakan bagi benda bernyawa dan tidak bernyawa. Sebagai contoh: orang yang melihat sebuah mutiara atau permata yang indah akan memberikan pujian (al-Madh (المدح)) kepada permata tersebut, atau minimal memiliki kecenderungan untuk memujinya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata tersebut lebih general ketimbang al-Hamd.
  2. Kata al-Madh (المدح) dapat diberikan untuk kebaikan yang belum diberikan atau telah diberikan. Namun, tidak demikian halnya dengan al-Hamd yang khusus diperuntukkan bagi kebaikan yang telah diberikan atau didapat.
  3. Kata al-Madh (المدح) atau pujian ada kalanya dilarang untuk ucapkan. Berkaitan dengan hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “taburkan tanah di wajah mereka yang memuji (untuk menjilat)”. Sedangkan al-Hamd (yang juga berarti pujian) diperintahkan tanpa kondisi untuk diucapkan sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang tidak memuji manusia maka dia tidak akan dipuji oleh Allah”.
  4. Kata al-Madh (المدح) merupakan kata yang merujuk kepada berbagai kemulian. Sedangkan kata al-Hamd hanya merujuk kepada kemulian tertentu saja yaitu kemuliaan kebaikan dan nikmat. Dengan demikian, perbedaan ini menguatkan poin sebelumnya bahwa kata al-Madh lebih umum ketimbang al-Hamd.

 

Perbedaan antara al-Hamd (الحمد) dan al-Syukr (الشكر)

Sedangkan yang membedakan kedua kata ini adalah al-Hamd (الحمد) meliputi berbagai nikmat yang diterima oleh pengucap atau yang diterima oleh orang lain. Sedangkan kata al-Syukr merupakan pujian bagi nikmat yang diterima oleh pengucap saja.

Dari perbedaan tersebut, dapat dilihat bahwa kata al-Hamd dipergunakan bagi yang bernyawa dan yang tidak bernyawa, bagi subyek yang memiliki pilihan dan yang tidak memiliki pilihan dalam tindakannya. Dengan demikian, jika kita mengatakan al-Madh lillah ( (المدح لله –bukan al-Hamd lillah—maka kata tersebut tidak menunjukkan dengan tegas bahwa Allah adalah subyek atau agen tindakan yang memiliki pilihan dalam tindakan-Nya. Sedangkan penggunaan kata al-Hamd (الحمد) dalam kalimat al-Hamdu lillah (الحمد لله) mengisyaratkan bahwa sang agen pelaku/subyek memiliki pilihan dalam perbuatannya. Dengan kata lain, kalimat tersebut menegaskan bahwa Tuhan Semesta Alam ini secara esensial tidak ada kewajiban atas-Nya (sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian Filsuf), tapi Dia adalah Agen Pelaku dengan Kehendak Bebas atau memiliki pilihan dalam tindakan-Nya.

Kata al-Hamd juga lebih pantas dipergunakan ketimbang kata al-Syukr karena kalimat al-Hamd lillah adalah ungkapan pujian kepada Allah atas segala nikmat yang bersumber dari-Nya dan yang juga diterima oleh selain yang mengucapkan. Sedangkan kalimat al-Syukr lilllah adalah kalimat pujian bagi nikmat yang diterima oleh yang mengucapkan saja. Dengan demikian jelas kalimat al-Hamd lillah lebih utama dibandingkan al-Syukr lillah, karena selain alasan yang diungkapkan sebelum ini, kalimat tersebut juga mengisyaratkan seorang hamba yang mengucapkan: tak peduli Engkau memberikan nikmat-Mu kepadaku atau tidak, tapi nikmat-Mu telah sampai ke seluruh semesta. Dan dengan demikian Engkau berhak mendapatkan pujian tertinggi.

Pendapat lain menyatakan bahwa kata al-Hamd dipergunakan untuk pengungkapan rasa syukur dengan memuji Allah atas perlindungan-Nya dari bala. Sedangkan kata al-Syukr merupakan pengungkapan rasa sukur atas kemurahan-Nya dalam menganugerahkan kenikmatan. Dari pendapat ini timbul pertanyaan: bukankah nikmat dalam pemberian anugerah lebih besar ketimbang perlindungan dari bala? Jika memang demikian mengapa yang dipergunakan kata yang mengindikasikan kepada hal yang lebih remeh ketimbang kata yang merujuk kepada hal yang lebih besar?

Menurut Imam Al-Razi, penggunaan kata al-Hamd dalam kalimat al-Hamd lillah seakan mengisyaratkan bahwa sang pengucap bersyukur akan nikmat yang lebih kecil, apalagi terhadap nikmat yang lebih besar. Dan sebagaimana yang diketahui bahwa tindakan memberi memiliki akhir, dan tidak demikian halnya dengan tindakan melindungi. Dengan demikian, ucapan terima kasih akan perlindungan dari bala yang tidak berujung menjadi lebih utama. Alasan terakhir penggunaan kata al-Hamd ketimbang kata al-Syukr dalam kalimat Al-Hamd lillah adalah menolak bahaya lebih diutamakan ketimbang mendapatkan manfaat.

Disadur dari kitab Tafsir Mafatih al-Ghaib, Imam Fakhruddin al-Razi, Bab Lima, Pembahasan Pertama: Al-Hamd Lillah, Subjudul pertama (Cetakan Dar el Fikr)

Advertisements