Di suatu resto, salah seorang sahabat saya bercerita saat dia melakukan kursus singkat ke Australia. Dia ceritakan betapa sengsaranya memiliki perut ndeso, semua makanan Barat tidak ada yang pas dengan lidahnya. Bisa di makan tapi perutnya tetap meronta meminta nasi beberapa saat kemudian. Indomie? Disamping sudah bosan, ternyata efek buruknya dirasakan oleh para teman seperjalanannya yang harus bolak balik kamar mandi karena diare.
Solusinya memang mudah, makan nasi dan selesai perkara. Cuma, masalahnya adalah makanan Indonesia disana cukup menguras kantong atau lebih tepatnya uang jalan yang mereka harapkan bisa disisihkan untuk membeli oleh-oleh untuk sanak saudara di Indonesia. Tapi, daripada diare dia memutuskan untuk mengorbankan oleh-oleh tadi dan mencari makanan Indonesia.

Singkat cerita, dia mendapatkan sebuah rumah makan Padang di Indonesia. “Disambut ramah dan mendapatkan rasa masakan Indonesia di LN itu sesuatu banget” katanya sambil sumringah membayangkan saat itu. Yg membuatnya terkejut adalah dia dipersilahkan menambah nasi dan lauk, kecuali ikan (karena harga ikan yang mahal di sana). Dan beberapa saat kemudian dia terlibat obrolan dengan sang pemilik. Rupanya, sang pemilik sudah puluhan tahun tinggal di Australia. Anak-anaknya semua bersekolah dan bekerja serta berkeluarga di sana. Dan dia memang sudah bertekad untuk menggratiskan penambahan makan bagi saudara setanah airnya yang datang ke Aussie. Ketika ditanya mengapa dia tak pindah kewarganegaraan saja agar tidak repot memperpanjang visa dan mendapatkan hak kewarganegaraan Australia secara penuh. Sambil tersenyum dia menjawab, “Periuk nasi saya boleh saja di sini, tapi tanah air saya tetap Indonesia.”

Jakarta, 17 Agustus 2014 — 68 tahun sudah bangsaku Merdeka.

Advertisements