Di kisahkan pada suatu hari ketika Syeikh Abdullah bin Mubarak sedang berjalan dengan penuh ketenangan dan wibawa, beliau bertemu dengan seorang pemuda mabuk yang merupakan keturunan ‘Alawi/Keturunan Rasulullah. “Wahai Orang India—Abdullah adalah seorang peranakan India–” kata pemuda tersebut kepadanya, “kamu berada di kondisi spiritual seperti itu, sedangkan kondisi spiritualku yang masih keturunan Rasulullah SAW masih seperti ini saja”. “Itu karena aku mengamalkan apa yang diamalkan oleh Kakekmu, Rasulullah SAW, berupa perintah dan larangan. Sedangkan engkau tidak mengamalkannya. Jadi tidak heran aku berada dalam kondisi spiritual seperti ini dan engkau di kondisi seperti itu.” Jawab Abdullah.

Dalam mimpinya malam itu beliau bertemu dengan Rasulullah SAW yang menampakkan wajah kurang senang kepadanya. “Wahai Rasulullah,” kata Abdullah, “mengapa aku melihat kesal di wajahmu? Apa salahku? Apa dosaku?”. Rasulullah SAW menjawab, “Karena engkau timpakan dosa kepada keturunanku di hadapan orang banyak, dan engkau nisbatkan kesalahan itu kepadanya secara terang bederang.” Ketika bangun di pagi harinya, Abdullah bergegas ke makam para ‘Alawi untuk meminta maaf.

Di tengah jalan beliau malah bertemu dengan pemuda tersebut yang sedang menuju rumahnya. Rupanya, malam itu sang pemuda juga bertemu Rasulullah SAW dalam mimpinya. Dalam mimpi tersebut sang pemuda mengadukan teguran Abdullah kepadanya. Rasulullah SAW berkata, “Kalau kamu seperti seharusnya, dan mengikuti jalanku, Abdullah tidak akan berkata demikian kepadamu.” Sehingga, ketika bangun di pagi hari, si pemuda bergegas ke rumah Abdullah untuk meminta maaf.

Akhirnya, sang pemuda bertaubat di tangan Abdullah bin Mubarak dan Abdullah mendapatkan maaf dari sang pemuda.

Disadur dari Kitab Tadzkirat al-Auliya karya Syeikh Fariduddin al-Atthar

Advertisements