“Pergilah, jangan engkau tampakkan mukamu dihadapanku”. Kata-kata yang keluar dari mulut yang mulai itu bagaikan palu dihatinya dan sejak saat itu dia tak pernah berani menatap Baginda Rasulullah secara langsung. Sebuah hukuman tak terperi yang diterimanya dengan kepala tertunduk, patuh, walau dengan hati perih.

Namanya Wahsyi. Kulitnya legam, sehitam perjalanan hidupnya yang ditakdirkan menjadi budak. Kedudukan paling rendah, tak memiliki hak dan tak ubah seperti hewan. Semua kehinaan yang membuat matanya–dan besar kemungkinan mata setiap budak pada zaman itu–gelap; bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan kemerdekaan; mendapatkan hak untuk menjadi manusia. Maka, inilah dia di Perang Uhud, mengendap untuk kemudian melemparkan lembingnya menembus tubuh salah seorang paling disayangi Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib, sang singa padang pasir. Dan demikian, dengan segala kepengecutan, kekejian, dan kekelaman hati, ditebusnya kemerdekaan dirinya dari Hindun, istri Abu Sofyan, yang kemudian berpesta dengan biadab diatas jenazah syahid yang mulia tersebut.

Namun, kemerdekaan itu tidak berlangsung lama. Ketika Rasulullah dan pasukan Muslim menaklukkan Makkah, hilang sudah rasa tenangnya. Tak lagi dia dapat hidup sebagai orang merdeka. Sampai akhirnya, dengan bujukan para sahabat dan hidayah Allah, dia memeluk Islam dan mengumpulkan setiap tetes keberanian dalam dirinya untuk menghadap Rasulullah, untuk pertama dan terakhir kalinya. Karena setelah itu, seperti yang diungkapkan di awal, dia tak lagi berani menampakkan wajahnya di hadapan Rasul. Dan walaupun mengetahui keislamannya menghapuskan segala dosa yang pernah dilakukannya, tapi dia tetap merasa tak terampuni karena kesalahannya. Sampai akhirnya masa itu datang.

Ketika seruan untuk berjihad memerangi nabi palsu Musailamah datang, dia tak sia-siakan kesempatan tersebut. Dibawanya lembing yang dulu dipergunakannya untuk menewaskan Hamzah dengan satu tekad, Musailamah sasarannya. Dan ditengah kecamuk perang, kesempatan itu datang. Dilontarkannya lembing tersebut. Kali ini dengan cahaya iman di dadanya. Dan Musailamah pun roboh tak bernyawa. “…Jika tombak ini dulu pernah menewaskan sebaik-baiknya manusia, maka sekarang lembing ini menewaskan seburuk-buruknya manusia” demikian beliau mengisahkan.

Konon setelah peristiwa itu, dalam mimpi beliau bertemu dengan Hamzah r.a. Sang syahid yang datang menunggani kuda dan mengenakan jubah putih berhenti dihadapannya. Kemudian turun dihadapannya dan dengan muka berseri penuh senyum memeluknya dengan erat. Sejak saat itu, dia merasa terampuni dengan sempurna.

Jalan pertobatan memang tak selalu manis.

Advertisements