Membaca sejarah hidupmu, Ya Rasulullah, bagaimana melihat lautan. Amat sederhana di permukaan, namun amat dalam dengan beragam mutu manikam, menjadi suar saat kami menjalani hidup. Ada begitu banyak mutiara tak ternilai harganya dalam setiap keping sejarah hidupmu yang disampaikan kepada kami melalui lisan para pewarismu, yang selalu meneteskan air mata ketika mengalirkan kisah tentang dirimu seakan mereka hidup pada zamanmu dan turut serta dalam tiap saat kehidupanmu.

Saat kecil aku terpesona dengan keperkasaanmu di medan Badr. Maju dengan 313 pasukan melawan 3000 pasukan Qurasiy Makkah bersenjata lengkap dan menang dengan bantuan malaikat. Ketika usia makin menanjak, kubaca ulang sejarah itu dan kutemukan betapa Engkau ajarkan kepada kami bagaimana bertawakkal dan bersabar dalam menjalan perintah Allah, tanpa harus banyak bertanya. Bahwa pertolongan Allah itu pasti datangnya. Namun, Engkau ajarkan pula kepada kami kelembutan hati ketika Engkau tolak usulan Umar untuk memancung setiap tawanan perang, walaupun itu artinya Engkau di”tegur” oleh Allah.

Dulu ketika kubaca ceritamu yang menyuapkan nasi yang Engkau lumatkan dengan mulutmu sendiri kepada seorang pengemis Yahudi buta di pojok pasar dengan lisan yang selalu mencaci dirimu, aku kagum dengan kerendahan hatimu. Namun ketika usia mulai menanjak, macam ragam asam garam kehidupan mulai kulalui, baru kusadari perbuatanmu yang terlihat sederhana itu luar biasa beratnya. Betapa tidak, Engkau yang saat itu sudah menjadi penguasa Arab, bisa menyuapkan orang yang secara jelas dan terang merendahkan martabatmu, memfitnahmu, membencimu, tanpa sedikitpun terpengaruh. Padahal cukup satu perintah darimu dan pengemis itu bisa hilang selamanya dari muka bumi.

Dulu saat kubaca cerita betapa penduduk Thaif melemparimu hingga darah muliamu menetes di bumi, aku geram dan membenci seluruh penduduk Thaif. Bahkan aku memprotes dalam hati mengapa Engkau tak luluskan saja tawaran malaikat untuk membalikkan gunung, memusnahkan mereka dari muka bumi. Dan ketika mulai memiliki lawan dan rintangan dalam hidup, aku menyadari bahwa Engkau tidak sekadar mengajarkan kesabaran tapi juga kelembutan hati dalam berdakwah harus menjadi yang pertama dan utama. Engkau ajarkan bagaimana memulai sesuatu karena nama-Nya yang Maha Pengasih dan Penyayang dalam arti sesungguhnya.

Dulu saat kubaca dirimu memilih tidur di teras rumahmu hanya karena istrimu terlelap dalam tidurnya, aku masih sulit menangkap maknanya karena belum memahami bagaimana kehidupan suami istri. Begitu pula saat Engkau menegus Aisyah r.a saat mencemburui Khadijah r.a yang sudah lama wafat. Kini, saat sudah berumah tangga kusadari Engkau ajarkan kami bahwa untuk menjadi imam dalam keluarga ketegasan juga harus diimbangi dengan kelembutan hati dan keluasan dada untuk memahami. Engkau ajarkan juga makna kesetiaan dan cinta dalam marahmu tadi.

Aku belajar bagaimana ketegasan hukum harus diimbangi dengan kebijaksanaan dan kelembutan hati penerapnya ketika Engkau biarkan seorang badui tak terpelajar kencing di sudut masjidmu. Engkau larang para sahabat yang mukanya sudah berubah garang untuk bertindak. “Cukup siram bekas kencingnya” ujarmu, lembut.

Aku juga belajar bahwa hukum harus ditegakkan sampai pada titik maksimal ketegasan ketika Engkau, dengan muka merah—kondisi yang amat jarang terdengar dari berbagai keping sejarah kisahmu—menolak permintaan keringanan hukuman Usamah putra Zaid bin Harits, putra angkat kesayanganmu untuk memberikan keringanan hukuman kepada seorang wanita bangsawan yang mencuri. “Kalau yang mencuri adalah Fatimah binti Muhammad’ ujarmu tegas, “Aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Ah, semakin dalam kuselami sejarah hidupmu, semakin aku mengetahui ada begitu banyak mutiara yang ada. Ya Rasulullah, jika boleh berkata maka aku ingin mengatakan betapa bangganya aku menjadi umatmu di dunia dan akhirat kelak.

Advertisements