Tags

, , , ,

Dalam sebuah hadits yang masyhur, seorang badui yang sebelumnya menanyakan sesuatu kepada Rasulullah, berdiri di pojok masjid nabawi kemudian melepaskan hajat buang air kecilnya dengan tenang. Para sahabat tentu gusar, tapi Rasulullah melarang mereka memarahi sang badui dan dengan tenang memerintahkan para sahabat menyiram bekas kencing tersebut. Masalah selesai: sang Badui tidak mendapat malu karena ditegur di muka sekalian banyak orang dan masjid kembali terjaga kebersihannya.

Bagi saya, kisah ini dan beberapa kisah lain bermuatan nilai yang serupa juga mengkomunikasikan nilai lain. Bahwa implementasi hukum Islam/syariat harus bersifat komprehensif. Artinya: implementasi tersebut juga harus menyertakan elemen akidah dan ahlak baik dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam eksekusi putusan tersebut. Keharusan tersebut yang kemudian dihadirkan para pakar hukum Islam klasik dalam berbagai konsep dalam filosofi hukum Islam (Ushul Fiqh) dan kaidah fundamental hukum Islam semisal ad-dharar yuzaal (kondisi yang membahayakan dapat membatalkan kondisi asal dari sebuah hukum) yang dapat dipergunakan ketika mengimplementasikan hukum yang, misalnya, bersifat wajib. Karena itu, dalam hukum Islam, sesuatu yang tadinya wajib bisa menjadi haram atau sebaliknya, jika terdapat situasi yang tidak biasa dalam eksekusi perintah tersebut. Kebolehan memakan babi ketika situasi kelaparan yang mengancam jiwa adalah salah satu contoh tersebut.

Semua itu dilakukan sebagai usaha para ulama untuk menyampaikan pesan adanya dimensi “lembut” yang terkandung didalam “keras dan hitam putihnya” hukum. Bahwa hukum tersebut memang diperuntukkan bagi manusia sepenuhnya; bahwa hukum tersebut diturunkan untuk kemaslahatan manusia. Lebih jauh lagi, implementasi yang komprehensif tersebut juga menyampaikan pesan lain: Allah, sebagai Penguasa Langit dan Bumi, tak berkebutuhan dan bekepentingan sedikitpun pada pelaksanaan syariat para mahluknya. Dengan kata lain, kepatuhan dan keingkaran seorang hamba terhadap perintah-Nya tak akan mengurangi ke-Maha-an-Nya; tak lantas menjadikan eksistensi-Nya menjadi pudar.

Tapi, implementasi hukum Islam yang bersifat parsial dengan mengeluarkan elemen lain seperti akidah dan tauhid dalam proses dan ekseskusi putusan/fatwanya justru menimbulkan akibat negatif. Pesan yang disampaikan dari parsialitas implementasi tersebut adalah Islam yang kaku, tidak kenal ampun, tak ada toleransi, dan yang paling penting tidak peduli dengan kondisi dan situasi yang melingkupi terhukum. Pada gilirannya, orang luar akan memandang Islam sebagai ajaran dengan wajah yang menyeramkan dan berpotensi besar melancarkan teror karena ajarannya dianggap tanpa kompromi dan kadang “tidak sesuai” dengan nilai-nilai universal, menjadikan hukum tersebut sebagai hukum yang kering.

Advertisements