“Orang Islam itu yang menyelamatkan muslim lain dari perbuatan dan lisannya” demikian sabda Rasul. Singkat, padat, namun lembut dan begitu dalam maknanya. Sebagai perangkat berucap, lisan merupakan representasi suara yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi, baik berkomunikasi dengan yang lain atau mengkomunikasikan mengkomunikasikan apa yang ada dalam benak dan pikiran. Dalam pengertiannya yang lebih luas, lisan menjelma menjadi segala perangkat pada tubuh manusia yang mengkomunikasikan dirinya. Dan dengan pengertian tersebut, maka baju yang dipergunakan, gerak tubuh yang dilakukan, kalimat yang disampaikan, kata yang dipilih,  dan lain sebagianya merupakan lisan seseorang.

Demikian pula dengan perbuatan yang dalam pengertian paling mendasar adalah sesuatu yang dilakukan manusia. Dalam pemaknaan yang lebih cair, perbuatan tersebut melambangkan kreativitas dan kemampuan individu berkreasi serta merespon berbagai fenomena kehidupan dan berbagai kondisi yang muncul di lingkungannya.

Maka, keberadaan kedua hal tersebut pada diri individu merupakan perangkat eksistensi yang dianugerahkan Allah SWT. Seseorang akan eksis apabila suaranya didengar dan perbuatannya mendatangkan pengaruh. Semakin kuat bergemuruh dan gaungnya, maka suara tersebut serta semakin berpengaruh hasil dari apa yang dilakukan semakin tinggi eksistensi individu tersebut di mata orang lain. Sebaliknya, apabila suaranya lenyap tak terdengar dan hasil perbuatannya tidak lagi mendatangkan pengaruh, maka eksistensi orang tersebut menjadi semakin pudar dan pada akhirnya menghilang ditelan waktu.

Perbuatan dan lisan juga merupakan etalese citra seseorang. Dalam tataran praktis, orang dapat membentuk citra dirinya melalui serangkaian latihan pencitraan. Berdiri tegak, pandangan lurus ke mata lawan bicara, mengenakan busana formal berwarna gelap misalnya, mengembangkan citra diri yang serius dan membawa pesan segalanya bersifat formal, bisnis, dan tidak ada yang pribadi. Demikian juga dengan cara bicara yang halus namun tegas atau tegas namun mengandung kelembutan atau lembut tapi mengadung ancaman; semua itu dapat dilatih sebagai usaha menampilkan citra diri sesuatu dengan keinginan diri dan tuntutan situasi yang ada.

Namun, di sisi lain, perbuatan dan lisan juga menjadi manifestasi citra diri dalam arti yang sesungguhnya. Sehingga apa yang dilakukannya dan apa yang dikomuikasikannya mencerminkan siapa dia sesungguhnya. Kedua perangkat tersebut menjadi saluran bagi qalb untuk memanifestasikan dirinya dalam bentuk yang senyata-nyatanya. Dengan demikian, bagi mereka yang berusaha mencitrakan diri seusatu tuntutan diri dan lingkungan, kedua perangkat ini menjadi topeng dari diri mereka yang sesungguhnya. Dan layaknya topeng, yang tidak pernah nyaman dipakai dalam waktu yang lama, demikian pula pencitraan diri yang sebenarnya menyiksa diri para pemakainya sehngga pada satu titik sang pemilik harus melepaskan topengnya untuk menjadi dirinya sendiri.

Dengan demikian, sabda Rasul tersebut menghendaki umatnya mengkaji diri mereka sendiri, sisi terang dalam diri maupun sisi gelapnya. Dengan demikian eksistensinya minimal tidak tidak membahayakan orang lain yang ada disekitarnya. Dan dalam perkembangan lebih lanjut, eksistensi tersebut menjadi suar bagi orang lain yang ada disekitarnya. Wallahu’alam bi showab.

Advertisements