Fleksibel

lawHukum Islam itu asik. Bayangkan saja, selain wajib dan haram, kita diberikan gradasi hukum; ada sunnah yang berpahala jika dilakukan dan tak mendapat dosa ketika ditinggalkan; ada mubah yang artinya boleh dikerjakan; ada makruh yang sebaiknya ditinggalkan tapi tak mengapa jika memang ingin dilakukan. Gradasi ini menimbulkan fleksibelitas luar biasa dalam penerapan hukum Islam. Tujuannya? Agar tidak memberatkan umat dalam melaksanakan dan dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi dan situasi yang unik untuk tiap individu.

Adaptasi dan fleksibelitas luar biasa diajarkan langsung oleh Allah dalam berbagai firman-Nya. Kebolehan menjamak dan menqasar sholat bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh merupakan salah satu contoh. Begitu pula kebolehan berbuka bagi yang sakit dan dalam perjalanan. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah sendiri mengajarkan fleksibelitas tersebut dalam berbagai kasus, seperti dalam kasus dipebolehkannya tayammum untuk menggantikan mandi junub karena sulitnya mendapatkan air atau kondisi badan yang tidak memungkinkan.

Sayangnya, kadang kita terjebak dengan pandangan “makin berat makin banyak pahalanya” dan “makin ketat maka makin sempurna suatu ibadah”. Pandangan yang membuat seakan Allah amat butuh dengan ibadah hamba-Nya; padahal yang amat membutuhkan ibadah dan segala macam ritual itu adalah hamba-Nya; bukan Dia yang suci dari segala ketergantungan. Lebih jauh lagi, tanpa disertai dengan pemahaman akan fleksibelitas hukum, pandangan tersebut dapat ditunggani nafsu sehingga membuat diri menjadi merasa lebih baik dalam beribadah ketimbang orang lain; merasa harus beribadah dengan ketat tanpa menimbang kondisi dan situasi; dan kemudian secara tak langsung menolak kemurahan dan kasih sayang Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang dicurahkan melalui berbagai pemakluman dalam pelaksanaan hukum. Semoga Allah berkenan menambahkan ilmu dan pemahaman kepada kita semua.

Note:

Tulisan ini adalah saduran dari kitab: Fathul Qarib al-Mujib fi Syarhil al-Faadz at-Taqrib karya Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Qasim bin Muhammnad al-Ghazi (1455—1512 M/859—918 H). Dengan demikian, seluruh yang ditulis dalam kitab ini adalah pandangan/fatwa fiqh dari madzhab Syafi’i saja.

Karena saduran, maka apa yang ada dalam tulisan ini bukan merupakan terjemahan murni dari kitab yang bersangkutan (sudah tercampur dengan bahasa dan pemahaman dari penerjemah/penyadur). Dengan segala kerendahan hati, saya mohon diinformasikan jika ada kesalahan pemahaman atau penerjemahan dalam karya ini.

Semoga bermanfaat dan silahkan disebar tanpa perlu izin kepada saya. Wa’allhu ‘alam bi shawab.

A.K. Anwar

Continue reading

Indah

Ini sudah hari ke sekian sang guru tak melihat muridnya. Biasanya, murid yang satu itu rajin datang, tak pernah lalai mengaji dan tekun. Kondisi tidak lazim ini membuat sang guru bertanya dan akhirnya memutuskan untuk memanggil sang murid di luar jam mengaji.
 
Ketika sang murid kemudian datang, sang guru menyambutnya dengan gembira. Setelah berbasa basi, sang syeikh masuk ke inti persoalan, “Anakku, mengapa engkau tak lagi datang ke majelis? Apakah aku pernah salah berbicara sehingga hatimu sakit? Jika demikian adanya, mohon maafkan aku yang lalai menjaga lidah ini”
“Bukan demikian, Syeikh” sang murid menjawab dengan terbata. Dia tak menduga ketidakhadirannya berujung kepada sang guru meminta maaf kepada dirinya. “Saya yang harus minta maaf karena beberapa hari ini tidak menghadiri majelis Anda. Saya hanya sedang menikmati pencerahan batin, Syeikh”
 

Continue reading

Munafik

Ubaidillah bin Ubay bin Salul, nama yang berkibat di daratan Yatsrib. Konon, demikian berpengaruhnya dia sehingga hampir menjadi raja di sana. Namun sinarnya tiba-tiba redup, harapannya untuk menjadi raja di daerah itu lenyap, ketika Muhammad SAW datang, membawa risalah baru dan mendapatkan sambutan dari seluruh elemen masyarakat. Sejak itu, dia mendedikasikan kebenciannya untuk Rasul dan Umat Islam, mewujudkan benci dan dengkinya dalam hasutan, fitnah, dan berbagai sikap musang berbulu domba lain.
 
Namun apa yang memiliki awal juga memiliki akhir. Setelah dia wafat, sang putra menghadap Rasulullah, menyamoaikan permohonan akhir sang ayah untk mendapatkan pakaian Rasul guna menjadi kafannya. Dalam kesempatan yang sama dia memohon dengan sangat kepada Rasulullah untuk menyolatkan sang ayah, “Jika Anda tidak berkenan menyolatkannya, tidak ada seorang muslim pun yang mau menyolatkan jenazahnya.” Rasul kemudian berkenan memberikan pakaian yang diminta dan mengimami sholat jenazah Ubaidillah. Umar yang menyaksikan semua itu tak lagi dapat menahan diri. Dia protes, “Rasul, Anda ingin menyolatkan orang yang telah mengatakan ini itu (fitnah, dusta, hasut dan seterusnya)?”

Continue reading

Indah

Pagi itu tiba-tiba beliau mengeluh sakit, kemudian memutuskan untuk berbuka. Setelah itu beliau tak turun dari tempat tidur, badannya lemah tapi orangnya tetap tenang dan tetap tersenyum. Anak-anaknya akhirnya memanggil dokter untuk memeriksa. Sang dokter yang juga muridnya datang dengan tergopoh, memeriksa sang guiru kemudian mengerutkan alis. “Ustadz ini sehat-sehat aja” katanya, “nga ada yang serius”
“Hahahaha…kamu bisa aja, ini penyakit orang mau meninggal.” ujarnya sambil tersenyum. Walau diucapkan dengan tenang dan datar seperti itu, tak ada yang tertawa.
“Jangan begitu ustadz…istirahat aja ya. Insya Allah nanti baikan lagi.”
Beliau hanya tersenyum.
 

Continue reading

Untuk Apa

Kadir memang punya bakat khusus. Khusus karena bakatnya itu dalam bidang spiritual. Dia dapat dengan mudah bermeditasi, kuat berjam-jam menjalankan amalan dan ritual dari berbagai guru. Jadilah dia di usia muda sebagai jagoan di kampung, sakti. Untungnya dia baik hati. Yang kurang beruntung justru urusan jodoh dan pekerjaannya. Seperti daun talas, jodoh susah nempel, rejeki ogah mendekat.
 
Akhirnya setelah berkonsultasi dengan Imam, teman dekatnya, dia setuju untuk berkunjung ke salah seorang kyai sepuh. Setelah berbasa-basi dan mencicipi hidangan ala kadarnya, Kadir memberanikan diri untuk bertanya, “Mbah, saya mohon petunjuk. Mengapa jodoh dan rejeki saya seret banget ya?”
 

Continue reading

Siap

Setiap orang di suatu waktu dalam kehidupanya mesti merasakan benturan dan cobaan dalam hidupnya. Demikian pula Badrus. Hidupnya baik-baik saja, anak bini sehat, tabungan masih cukup, kerjaan sudah mapan. Tapi akhir-akhir ini beliau makin intens belajar agama, ada ketertarikan yang semain kuat untuk mengkaji dan mengaji. Tapi semakin dia membaca semakin dia gelisah, sampai ketika dia bercerita, teman tempatnya curhat berkata, “Ente mao nga ikutan ane ke seorang alim. Kata orang, dia sudah sampai tahapan dapat “melihat” orang.”

“Itu kyai apa dukun?”

“Sembarangan ngomong. Beliau punya pesantren dan ngajinya kenceng. Khan ente udah baca sendiri haditsnya…hati2 dengan firasat orang mukmin, karena mereka melihat dengan cahaya ALlah.”

Continue reading

Obat

Obat
 
Salah seorang murid Abu Yazid adalah seorang ulama besar di Bustam dan memiliki banyak murid. Dan walaupun demikian, dia tidak pernah absen dalam setiap pengajian yang diselenggarakan oleh Abu Yazid.
 
Suatu hari, beliau menghadap Abu Yazid. “Guru yang mulia” dia memulai, “sudah tiga puluh tahun aku berpuasa, dan selama itu aku juga selalu menghabiskan malam dalam sholat. Tapi mengapa tak kutemukan sedikit pun jejak pengetahuan yang Anda bicarakan ini dalam diriku. Padahal aku meyakini dan menyukai apa yang Anda sampaikan.”
 
“Walaupun Anda puasa dan sholat malam selama tiga ratus tahun,” jawab Sang Guru Besar, “tak ada yang bisa Anda dapatkan dari apa yang aku sampaikan.”
“Kenapa demikian?”
“Karena Anda tertabiri oleh dirimu sendiri” ujar Sang Syeikh.
“Lalu, apa obatnya?”
“Anda pasti menolaknya”
“Saya mohon,” ujar sang murid, “Saya akan melaksanakan apa yang Anda perintahkan”
 
“Baiklah” kata Sang Syeikh, “sekarang pulang, cukur habis rambut dan janggutmu. Lepasan semua baju yang Anda kenakan sekarang, lalu kenakan celana kolor dari kain kasar dan kalungkan sekantong kacang almond di lehermu. Setelah itu kumpulkan anak-anak sebanyak yang Anda mampu dan katakan kepada mereka, ‘Satu kacang bagi yang menampar saya’ Kelilingi kota dan lakukan hal yang sama, terutama, kunjungi tempat-tempat dimana orang mengenal dirimu. Itu obatmu.”
 
“Subhanallah! Laa ila ha Illah” ucap sang murid sambil menangis setelah mendengarkan jawaban sang syeikh,
 
“Jika non muslim mengucapkan kata itu, maka dia akan menjadi soerang muslim. Tapi dengan mengucaokan kata yang sama maka Anda menjadi seorang musyrik.” sambung sang syeikh.
“Bagaimana mungkin hal tersebut terjadi?” tanya sang murid.
“Karena Anda merasa terlalu agung untuk melakukan apa yang aku sampaikan. Dengan demikian, Anda menjadi seorang musyrik karena menggunakan kalimat ini untuk menunjukkan betapa pentingnya dirimu, bukan mengagungkan Allah.”
 
“Tapi hal ini tidak bisa aku lakukan,”kata sang murid, “berikan cara lain.”
“tapi obat yang engkau minta adalah yang aku berikan.” kata sang syeikh.
“Tapi saya tidak bisa melakukannya” sang murid bersikeras.
“Nah, bukankah dari awal sudah saya katakan bahwa Anda pasti menolaknya.”
 
~Disadur dari Terjemahan bahasa Inggris Tadzkiratul Awliya karya Syeikh Fariduddin Atthar

Continue reading

Sejati

Hari itu Madinah basah oleh mata-mata yang menggenang. Dia yang namanya selalu disebut dalam setiap shalat telah berpulang untuk selamanya. Tak ada muka ceria, tak ada senyum, semua mendung.

Saat jenazah mulianya masih terbaring di rumah duka, Umar datang. Beliau masuk, membuka kain penutup wajah sang kekasih dan tak percaya beliau sudah wafat. Umar kemudian keluar, dengan suara keras dan tegas dia berkata, “Ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah SAW telah wafat. Tetapi demi Allah, sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, seperti Musa bin Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama 40 hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka setelah dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong!” Dia menolak kenyataan bahwa Rasul telah wafat. Cintanya membuat dia sulit menerima kenyataan yang ada.

Continue reading

Tangis

Aula itu riuh orang anak SMU yang saling bercerita dan berbicara. Sang Ibu, yang menjadi pemateri utama hari itu,  mengucapkan salam pembuka, aula tetap riuh. Beliau sampaikan materi satu persatu dan aula masih riuh, celetukan terdengar di sana sini. Ketika slide materi sampai di satu titik, keriuhan itu perlahan reda, kemudian senyap. Slide terus berjalan, menampilkan bagaimana sakitnya menjadi korban bullying, bagaimana efek dari pemnbully-an tersebut terus berlanjut hingga dewasa, membentuk pribadi yang rapuh, mudah tertekan atau sebaliknya, mudah marah dan bertemperamen tinggi kemudian menjadi penindas.

Waktu terus merayap, kembali terdengar suara dari aula yang bermenit sunyi. Kali ini bukan celetukan, tapi isak dari tiap anak yang hadir. Mata-mata mulai menggenang, tetes demi tetes mulai menurun mengalir pipi. Anak laki-laki diam, mulai bersembunyi dibalik tangan, menunduk tanpa berani mengangkat kepala. Saya yakin mata mereka juga memerah dan menggenang.

Continue reading