Makan dan Baca Basmallah

Makan dan baca Basmalah

Saat pengajian bersama, seorang jamaah bertanya kepada guiru kami, “Bagaimana hukumnya sesuatu yang belum ada label halal dari lembaga yang berhak mengeluarkannya? Apakah tetap halal atau kita hindari saja”

“Dalam sebuah riwayat” jawab guru ngaji kami, “ada seseorang yang bertanya tentang daing yang mereka tidak mengetahui apakah daging tersebut disembelih sesuai dengan kaidah Islam atau tidak? Rasul kemudian menjawab, makan dan baca basmallah.

Hadits ini kemudian menjadi dasar para ulama untuk membolehkan makan makanan sembelihan orang non muslim tanpa harus bertanya kepada mereka apakah disembelih sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Bayangkan jika pertanyaan itu dilontarkan kepada mereka yang sudah berniat baik untuk mengantarkan makanan kepada kita, bisa kesinggung dia dan kita kena tanggungan dosa sampai dia memaafkan. Jadi, selama kita mengetahui bahwa daging tersebut adalah daging yang dihalalkan, silahkan baca basmallah dan makan.

Continue reading

Advertisements

Kesempatan

Ketika akhir-akhir ini membaca berbagai cuitan dan posting di media sosial yang dengan mudah menghina, mencaci, dan mendoakan mereka yang berbuat salah, maka muncul ingatan tentang berbagai kisah mereka yang ditegur oleh-Nya dalam bentuk azab yang membinaskan. Dari zaman para Nabi terdahulu, ada Fir’aun yang dibinasakan dengan ditenggelamkan di laut; ada kaum Nabi Nuh yang ditenggelamkan dalam air bah luar biasa; ada kaum Nabi Luth yang dibinasakan dengan hantaman badai. Contoh agak baru disebutkan al-Qur’an dalam kisah Abrahah yang menyerang Ka’bah dengan tentara gajahnya. Dia dibinasakan dengan bom batu dari neraka yang dibawa oleh burung ababil.

Dari semua kisah tersebut, sebagian besar menyampaikan pesan bahwa semua itu adalah balasan bagi mereka yang sombong, demikian sombongya hingga ada yang mengaku sebagai tuhan, ada yang mengabaikan perintah tuhan dan berbuat semaunya di bumi; dan lain sebagainya. Terlepas dari itu, dari berbagai kisah tersebut ada hal yang sama, Allah selalu mengabarkan bahwa Dia selalu memberikan peringatan kepada mereka melalui berbagai cara. Pada kasus zaman terdahulu, para nabi dan Rasul di utus untuk memberikan peringatan, Nabi Musa ke Firaun itu salah satu contohnya.

Pada kasus yang lebih kini, ketika tak ada masa kenabian dalam kasus Abrahah dan tentara gajahnya, Allah berikan isyarat melalui Abdul Muthalib saat ditanya kehendaknya menjawab, “Yang aku kehendaki adalah Anda mengembalikan 200 ekor unta milikku.” Abrahah sempat terkejut dengan jawaban tersebut , “Anda meributkan urusan unta sedangkan aku datang hendak menghancurkan rumah tuhanmu?” tanyanya. Abdul Muthalib menjawab tenang, “Unta itu milikku. Sedangkan untuk Rumah itu, biarkan sang pemilik yang akan menghalangi Anda.”

Tak cukup dengan itu, isyarat lain ditunjukkan ketika gajah-gajah dalam pasukan itu mogok. Tak mau berdiri walau segala cara sudah dilakukan. Anehnya ketika diniatkan untuk berjalan ke arah Yaman atau Syam, gajah-gajah itu dengan cepat menurut. Tapi semua itu diabaikannya dan akhirnya datanglah burung Ababil.

Demikianlah ALlah memberikan isyarat, betapa kasih dan sayang-Nya melebihi “kemarahan”-Nya. Bahwa semua diberi kesempatan dan peringatan sebelum hukuman dijatuhkan, walaupun orang itu perbuatan dosanya sudah menembus langit dan bumi. Sayangnya, dari sekian banyak yang diberikan peringatan, hanya sedikit yang sadar dan kemudian segera kembali kepada-Nya, jauh yang lebih banyak tak mampu membaca “isyarat”Nya dan akhir tenggelam dalam dosa-dosa mereka.

Transparan

Baru-baru ini saya membaca kasus bunuh diri dua kakak beradik yang loncat dari sebuah apartemen. Entah apa masalahnya yang mengakibatkan mereka memilih jalan nekat seperti itu, yang jelas masalahnya mesti demikian berat sehingga tak lagi mereka rasa dapat ditanggung dan hanya dapat selesai dengan kematian. Yang luar biasa adalah ada yang sempat merekam momen mereka berdua meloncat dari apartemen dan meng-uploadnya ke jejaring sosial sehingga video tersebut menjadi viral.
 
Tindakan tersebut mengingatkan saya kepada film The Circle yang dibintangi aktor senior Tom Hank. Film yang bercerita tentang transparansi di segala bidang, termasuk bidang kehidupan. Bahwa privasi adalah penghambat dan pengetahuan akan segala sesuatu adalah segalanya. Maka, Mae Holland (yang diperankan oleh Emma Watson), salah seorang karyawannya, berhasil dibujuk untuk mengenakan kamera kecil untuk merekam segala aktivitasnya, real time.
 
Hasilnya adalah petaka demi petaka. Teman baik Mae harus tewas karena dikejar oleh drone yang “tadi”nya bertujuan untuk menemukkannya. Orang tuanyua menolak untuk melanjutkan program tersebut karena merasa privasi mereka terganggu. Demikian seterusnya sampai Mae sadar bahwa pengetahuan tanpa batas bukan segalanya.
 
Sebuah sindiran yang amat mengena untuk masa kini, dimana orang tergila-gila dengan informasi dan terus dibanjiri oleh informasi. Dimana orang merasa adalah kewajiban dirinya untuk menyiarkan semua hal, tapi lupa bahwa bahkan kebaikan sekalipun bisa menjadi keburukan jika disampaikan dengan cara yang salah atau kepada orang yang tidak tepat.

Fleksibel

lawHukum Islam itu asik. Bayangkan saja, selain wajib dan haram, kita diberikan gradasi hukum; ada sunnah yang berpahala jika dilakukan dan tak mendapat dosa ketika ditinggalkan; ada mubah yang artinya boleh dikerjakan; ada makruh yang sebaiknya ditinggalkan tapi tak mengapa jika memang ingin dilakukan. Gradasi ini menimbulkan fleksibelitas luar biasa dalam penerapan hukum Islam. Tujuannya? Agar tidak memberatkan umat dalam melaksanakan dan dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi dan situasi yang unik untuk tiap individu.

Adaptasi dan fleksibelitas luar biasa diajarkan langsung oleh Allah dalam berbagai firman-Nya. Kebolehan menjamak dan menqasar sholat bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh merupakan salah satu contoh. Begitu pula kebolehan berbuka bagi yang sakit dan dalam perjalanan. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah sendiri mengajarkan fleksibelitas tersebut dalam berbagai kasus, seperti dalam kasus dipebolehkannya tayammum untuk menggantikan mandi junub karena sulitnya mendapatkan air atau kondisi badan yang tidak memungkinkan.

Sayangnya, kadang kita terjebak dengan pandangan “makin berat makin banyak pahalanya” dan “makin ketat maka makin sempurna suatu ibadah”. Pandangan yang membuat seakan Allah amat butuh dengan ibadah hamba-Nya; padahal yang amat membutuhkan ibadah dan segala macam ritual itu adalah hamba-Nya; bukan Dia yang suci dari segala ketergantungan. Lebih jauh lagi, tanpa disertai dengan pemahaman akan fleksibelitas hukum, pandangan tersebut dapat ditunggani nafsu sehingga membuat diri menjadi merasa lebih baik dalam beribadah ketimbang orang lain; merasa harus beribadah dengan ketat tanpa menimbang kondisi dan situasi; dan kemudian secara tak langsung menolak kemurahan dan kasih sayang Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang dicurahkan melalui berbagai pemakluman dalam pelaksanaan hukum. Semoga Allah berkenan menambahkan ilmu dan pemahaman kepada kita semua.

Note:

Tulisan ini adalah saduran dari kitab: Fathul Qarib al-Mujib fi Syarhil al-Faadz at-Taqrib karya Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Qasim bin Muhammnad al-Ghazi (1455—1512 M/859—918 H). Dengan demikian, seluruh yang ditulis dalam kitab ini adalah pandangan/fatwa fiqh dari madzhab Syafi’i saja.

Karena saduran, maka apa yang ada dalam tulisan ini bukan merupakan terjemahan murni dari kitab yang bersangkutan (sudah tercampur dengan bahasa dan pemahaman dari penerjemah/penyadur). Dengan segala kerendahan hati, saya mohon diinformasikan jika ada kesalahan pemahaman atau penerjemahan dalam karya ini.

Semoga bermanfaat dan silahkan disebar tanpa perlu izin kepada saya. Wa’allhu ‘alam bi shawab.

A.K. Anwar

Continue reading

Indah

Ini sudah hari ke sekian sang guru tak melihat muridnya. Biasanya, murid yang satu itu rajin datang, tak pernah lalai mengaji dan tekun. Kondisi tidak lazim ini membuat sang guru bertanya dan akhirnya memutuskan untuk memanggil sang murid di luar jam mengaji.
 
Ketika sang murid kemudian datang, sang guru menyambutnya dengan gembira. Setelah berbasa basi, sang syeikh masuk ke inti persoalan, “Anakku, mengapa engkau tak lagi datang ke majelis? Apakah aku pernah salah berbicara sehingga hatimu sakit? Jika demikian adanya, mohon maafkan aku yang lalai menjaga lidah ini”
“Bukan demikian, Syeikh” sang murid menjawab dengan terbata. Dia tak menduga ketidakhadirannya berujung kepada sang guru meminta maaf kepada dirinya. “Saya yang harus minta maaf karena beberapa hari ini tidak menghadiri majelis Anda. Saya hanya sedang menikmati pencerahan batin, Syeikh”
 

Continue reading

Munafik

Ubaidillah bin Ubay bin Salul, nama yang berkibat di daratan Yatsrib. Konon, demikian berpengaruhnya dia sehingga hampir menjadi raja di sana. Namun sinarnya tiba-tiba redup, harapannya untuk menjadi raja di daerah itu lenyap, ketika Muhammad SAW datang, membawa risalah baru dan mendapatkan sambutan dari seluruh elemen masyarakat. Sejak itu, dia mendedikasikan kebenciannya untuk Rasul dan Umat Islam, mewujudkan benci dan dengkinya dalam hasutan, fitnah, dan berbagai sikap musang berbulu domba lain.
 
Namun apa yang memiliki awal juga memiliki akhir. Setelah dia wafat, sang putra menghadap Rasulullah, menyamoaikan permohonan akhir sang ayah untk mendapatkan pakaian Rasul guna menjadi kafannya. Dalam kesempatan yang sama dia memohon dengan sangat kepada Rasulullah untuk menyolatkan sang ayah, “Jika Anda tidak berkenan menyolatkannya, tidak ada seorang muslim pun yang mau menyolatkan jenazahnya.” Rasul kemudian berkenan memberikan pakaian yang diminta dan mengimami sholat jenazah Ubaidillah. Umar yang menyaksikan semua itu tak lagi dapat menahan diri. Dia protes, “Rasul, Anda ingin menyolatkan orang yang telah mengatakan ini itu (fitnah, dusta, hasut dan seterusnya)?”

Continue reading

Indah

Pagi itu tiba-tiba beliau mengeluh sakit, kemudian memutuskan untuk berbuka. Setelah itu beliau tak turun dari tempat tidur, badannya lemah tapi orangnya tetap tenang dan tetap tersenyum. Anak-anaknya akhirnya memanggil dokter untuk memeriksa. Sang dokter yang juga muridnya datang dengan tergopoh, memeriksa sang guiru kemudian mengerutkan alis. “Ustadz ini sehat-sehat aja” katanya, “nga ada yang serius”
“Hahahaha…kamu bisa aja, ini penyakit orang mau meninggal.” ujarnya sambil tersenyum. Walau diucapkan dengan tenang dan datar seperti itu, tak ada yang tertawa.
“Jangan begitu ustadz…istirahat aja ya. Insya Allah nanti baikan lagi.”
Beliau hanya tersenyum.
 

Continue reading

Untuk Apa

Kadir memang punya bakat khusus. Khusus karena bakatnya itu dalam bidang spiritual. Dia dapat dengan mudah bermeditasi, kuat berjam-jam menjalankan amalan dan ritual dari berbagai guru. Jadilah dia di usia muda sebagai jagoan di kampung, sakti. Untungnya dia baik hati. Yang kurang beruntung justru urusan jodoh dan pekerjaannya. Seperti daun talas, jodoh susah nempel, rejeki ogah mendekat.
 
Akhirnya setelah berkonsultasi dengan Imam, teman dekatnya, dia setuju untuk berkunjung ke salah seorang kyai sepuh. Setelah berbasa-basi dan mencicipi hidangan ala kadarnya, Kadir memberanikan diri untuk bertanya, “Mbah, saya mohon petunjuk. Mengapa jodoh dan rejeki saya seret banget ya?”
 

Continue reading

Siap

Setiap orang di suatu waktu dalam kehidupanya mesti merasakan benturan dan cobaan dalam hidupnya. Demikian pula Badrus. Hidupnya baik-baik saja, anak bini sehat, tabungan masih cukup, kerjaan sudah mapan. Tapi akhir-akhir ini beliau makin intens belajar agama, ada ketertarikan yang semain kuat untuk mengkaji dan mengaji. Tapi semakin dia membaca semakin dia gelisah, sampai ketika dia bercerita, teman tempatnya curhat berkata, “Ente mao nga ikutan ane ke seorang alim. Kata orang, dia sudah sampai tahapan dapat “melihat” orang.”

“Itu kyai apa dukun?”

“Sembarangan ngomong. Beliau punya pesantren dan ngajinya kenceng. Khan ente udah baca sendiri haditsnya…hati2 dengan firasat orang mukmin, karena mereka melihat dengan cahaya ALlah.”

Continue reading