Perkawinan anak

Menjadi salah satu negara dengan tingkat perkawinan anak tertinggi di dunia (nomer 7) bukanlah sesuatu yang membanggakan. Bagi banyak pelaku perkawinan dini, perkawinan yang seharusnya menjadi awal lembaran kehidupan baru sepasang manusia dan gerbang pembentukan keluarga dan generasi penerus yang baik, menjadi terdengar seperti mimpi. Sebab, mereka kerap harus berhadapan dengan resiko ekstrim seperti kehilangan nyawa ketika melahirkan karena belum siapnya organ reproduksi, mengalami tekanan psikologis akibat belum siap menjadi orang tua dan dalam kondisi yang lebih parah akibat kekerasan dalam rumah tangga. Sayangnya, efek merusak itu tak hanya dirasakan sendiri, tapi juga pada anak-anaknya.

Continue reading

Advertisements

Ikhlas

Dulu, kami belajar mengaji ke murid datang lebih dulu dan membantu membereskan rumah. Ada yang mencuci piring, mengepel, dan lain sebagainya. Sang guru tidak bersedia menerima bayaran, tapi tak menolak apabila para murid bersedia membantu pekerjaan rumahnya. Setelah semua beres, barulah para murid mengaji.

Ini konsep sederhana dan indah, bahwa ikhlas itu urusan hati masing-masing orang yang mengerjakan pekerjaan. Ketika sang guru bersedia mengajar maka dia harus mengikhlaskan hatinya untuk mengajarkan semua yang dia bisa. Tapi keikhlasan tersebut tidak mesti menghalangi dirinya untuk menerima “bayaran” berupa bantuan para murid dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Continue reading

Hijab

Tekadnya sudah bulat, hari itu sang murid menghadap gurunya. Sang guru yang terkenal tajam mata hatinya diam memandang sang murid sambil menghela nafas panjang. Dia termasuk murid paling senior, paling lama “ikut” dengannya dan sekarang dengan amat sangat mengajukan permohonan yang tidak mudah. Dia minta hijab ruhaninya terbuka, agar dia bisa melihat dengan nyata bukti kebesaran Allah, demikian pinta dan alasannya.

Sang Guru terdiam lama dan tidak memberikan jawaban. “Kamu yakin seyakin yakinnya atas permintaan ini? Jika saya minta tarik kembali permintaanmu bagaimana? Berlatih sabar sedikit lagi”
“Saya sudah berpuluh tahun bersabar, Guru. Saya tidak pernah meminta apa pun kepadamu. Hanya kali ini saya memohon dengna sangat, agar semangat saya dalam menapak jalan ini kembali.”
“Bagaimana jika saya minta kepadamu untuk mempertimbangkan kembali waktunya, misalnya, saya buka 1 hari saja?”
Sang murid terdiam mendengar tawaran sang guru. Ini bukan perintah tapi tawaran, artinya sang guru berkenan meluluskan permintaannya tapi dengan syarat.
“Bagaimana jika tiga hari, Guru?”
“Tiga hari kalau begitu” ujar sang Guru, tak ada nada gembira dalam suaranya. Raut mukanya amat serius, seperti menahan rasa yang berat.
“Sebelum saya melanjutkan, saya ingin berpesan: kamu harus sabar. Ketika tirai ruhani terbuka maka ujian yang datang semakin besar. Kamu harus benar-benar berpegang kepada syariat Allah”
“Baik, Guru… Saya paham” jawabnya cepat. Hatinya bergelora menahan kegembiraan, “akhirnya saat ini tiba juga.”

Continue reading

Penebang Pohon

Konon di suatu tempat di suatu masa, ada sebangsa jin yang menempati sebuah pohon raksasa. Para penduduk desa di sekitar pohon tersebut menjadikannya sebagai tempat pemujaan, tempat mereka meminta berkah, mengadukan nasib, dan memasrahkan diri. Perbuatan yang menurut seorang pemuda yang taat sebagai sebuah bentuk kemunduran iman, wujud kemusyrikan karena telah menduakan Allah SWT. Sayangnya, walau ada yang setuju dengan pendapatnya, tapi tak satu pun yang bernyali menebang pohon tersebut. Bukan karena besarnya, tapi karena setiap yang berangkat menebang tak pernah berhasil menebang pohon tersebut dan malah jatuh sakit parah. Kondisi yang makin menguatkan keyakinan penduduk lain; bahwa pohon tersebut sakti, bertuah.

Setelah menguatkan tekad dan niat, sang pemuda kemudian menenteng kapak besar ke pohon tersebut. Sesampainya di sana, dia ayunkan kampaknya sambil mengucapkan basmalah. Ayunan pertama, pohon tersebut bergetar keras, dalam pendengarannya ada berbagai suara yang meneriakkan kemarahan. Ayunan kedua, suara tadi berubah menjadi nada takut, khawatir, terkejut. Dia tak peduli, ayunan ketiga segera dilancarkan dengan tenaga yang lebih besar; dalam pandangannya pohon tersebut bergetar amat keras dan teriakan sakit terdengar bergemuruh. Tepat sebelum dia mengayunkan kapak untuk keempat kalinya, sesosok tinggi besar muncul di hadapannya dalam posisi bersimpuh, dengan kepala tertunduk dalam. “Mohon sabar, Tuan” katanya, “tak bisakah kita bicarakan ini baik-baik.”

“Siapa kau?”

Continue reading

Urusan Dunia

Suatu waktu, Rasulullah SAW melewati sahabat yang sedang mengawinkan kurma. Beliau berhenti dan bertanya, “Mengapa demikian caranya?”
“Karena dengan demikian kurma menjadi bagus” jawab sahabat tersebut.
“Oh demikian..padahal kalau kalian tidak melakukannya dengan cara demikian maka kurma ini akan tetap bagus”

Sahabat yang mendengarkan hal tersebut kemudian menuruti apa yang dikatakan oleh Rasul. Hasilnya, hasil panen menurun kualitasnya. Rasulullah sendiri heran dengan kualitas kurma hasil panen saat itu, karena Madinah terkenal dengan kualitas kurmanya. “Mengapa kurma kalian jadi begini?” tanya beliau
“Karena Engkau berkata begini begitu wahai Rasul” jawab sahabat merespon pertanyaan itu. Mendengar jawaban tersebut Rasul kemudian bersabda, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR Muslim, 2363)

 

Dalam kasus yang berbeda, ketika para sahabat dan Rasul sedang bersiap berperang di Badar. Mereka mengambil tempat di luar mata air yang ada di sana. Melihat posisi pasukan seperti ini, Habab bin Mundzir, salah seorang sahabat bertanya, “Rasul, apakah pemilihan tempat ini berdsarkan wahyu atau berdasarpan pendapat pribadi Anda dan taktik perang?”
“Berdasarkan pendapatku dan taktik perang” jawab Rasul.
Mendengar jawaban tersebut, Habab kemudian merekomendasikan posisi berbeda dimana mata air menjadi wilayah yang dikuasai pasukan muslim. Taktik tersebut terbukti ampuh karena memotong jalur suplai air ke pasukan musyrik dan menjamin ketersediaan air bagi pasukan muslim. Dan air di tengah gurun yang gersang, ada kunci dari segala-galanya.

Bahwa Muhammad SAW adalah utusan-Nya yang mendapatkan wahyu langsung dari-Nya merupakan bagian dari pondasi keimanan setiap muslim. Dengan demikian, dua contoh kasus ini menjadi menarik karena mengisyaratkan bahwa tak setiap ilmu Dia langsung berikan kepada Rasul; bahwa dalam kasus yang berkaitan dengan urusan dunia, Beliau SAW juga harus menggunakan logika dan pengetahuannya dan tentu saja terbuka terhadap kritik dan saran. Lebih penting lagi, Beliau juga amat terbuka dengan kemajuan dan keberagaman pengetahuan, sikap yang Beliau tunjukkan ketika, misalnya, mengadopsi taktik perang Persia dengan membuat parit di sekeliling Madinah sebagaimana saran Salman al Farisi.

Maka sejak awal, Islam tidak pernah menutup diri dari perkembangan pengetahuan yang ada dan mewajibkan kaum muslim berjalan berdasarkan makna literal wahyu semata; membuang segala sesuatu yang tidak ada wahyu atasnya. Dan hal itu bermakna besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan di masa depan sehingga membuat kaum muslim menguasai peradaban dan pengetahuan selama berabad-abad lamanya. Jika sekarang ilmu pengetahuan dinafikan maka bukankah kita yang kembali ke abad kegelapan Eropa?

Continue reading

Makan dan Baca Basmallah

Makan dan baca Basmalah

Saat pengajian bersama, seorang jamaah bertanya kepada guiru kami, “Bagaimana hukumnya sesuatu yang belum ada label halal dari lembaga yang berhak mengeluarkannya? Apakah tetap halal atau kita hindari saja”

“Dalam sebuah riwayat” jawab guru ngaji kami, “ada seseorang yang bertanya tentang daing yang mereka tidak mengetahui apakah daging tersebut disembelih sesuai dengan kaidah Islam atau tidak? Rasul kemudian menjawab, makan dan baca basmallah.

Hadits ini kemudian menjadi dasar para ulama untuk membolehkan makan makanan sembelihan orang non muslim tanpa harus bertanya kepada mereka apakah disembelih sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Bayangkan jika pertanyaan itu dilontarkan kepada mereka yang sudah berniat baik untuk mengantarkan makanan kepada kita, bisa kesinggung dia dan kita kena tanggungan dosa sampai dia memaafkan. Jadi, selama kita mengetahui bahwa daging tersebut adalah daging yang dihalalkan, silahkan baca basmallah dan makan.

Continue reading

Kesempatan

Ketika akhir-akhir ini membaca berbagai cuitan dan posting di media sosial yang dengan mudah menghina, mencaci, dan mendoakan mereka yang berbuat salah, maka muncul ingatan tentang berbagai kisah mereka yang ditegur oleh-Nya dalam bentuk azab yang membinaskan. Dari zaman para Nabi terdahulu, ada Fir’aun yang dibinasakan dengan ditenggelamkan di laut; ada kaum Nabi Nuh yang ditenggelamkan dalam air bah luar biasa; ada kaum Nabi Luth yang dibinasakan dengan hantaman badai. Contoh agak baru disebutkan al-Qur’an dalam kisah Abrahah yang menyerang Ka’bah dengan tentara gajahnya. Dia dibinasakan dengan bom batu dari neraka yang dibawa oleh burung ababil.

Dari semua kisah tersebut, sebagian besar menyampaikan pesan bahwa semua itu adalah balasan bagi mereka yang sombong, demikian sombongya hingga ada yang mengaku sebagai tuhan, ada yang mengabaikan perintah tuhan dan berbuat semaunya di bumi; dan lain sebagainya. Terlepas dari itu, dari berbagai kisah tersebut ada hal yang sama, Allah selalu mengabarkan bahwa Dia selalu memberikan peringatan kepada mereka melalui berbagai cara. Pada kasus zaman terdahulu, para nabi dan Rasul di utus untuk memberikan peringatan, Nabi Musa ke Firaun itu salah satu contohnya.

Pada kasus yang lebih kini, ketika tak ada masa kenabian dalam kasus Abrahah dan tentara gajahnya, Allah berikan isyarat melalui Abdul Muthalib saat ditanya kehendaknya menjawab, “Yang aku kehendaki adalah Anda mengembalikan 200 ekor unta milikku.” Abrahah sempat terkejut dengan jawaban tersebut , “Anda meributkan urusan unta sedangkan aku datang hendak menghancurkan rumah tuhanmu?” tanyanya. Abdul Muthalib menjawab tenang, “Unta itu milikku. Sedangkan untuk Rumah itu, biarkan sang pemilik yang akan menghalangi Anda.”

Tak cukup dengan itu, isyarat lain ditunjukkan ketika gajah-gajah dalam pasukan itu mogok. Tak mau berdiri walau segala cara sudah dilakukan. Anehnya ketika diniatkan untuk berjalan ke arah Yaman atau Syam, gajah-gajah itu dengan cepat menurut. Tapi semua itu diabaikannya dan akhirnya datanglah burung Ababil.

Demikianlah ALlah memberikan isyarat, betapa kasih dan sayang-Nya melebihi “kemarahan”-Nya. Bahwa semua diberi kesempatan dan peringatan sebelum hukuman dijatuhkan, walaupun orang itu perbuatan dosanya sudah menembus langit dan bumi. Sayangnya, dari sekian banyak yang diberikan peringatan, hanya sedikit yang sadar dan kemudian segera kembali kepada-Nya, jauh yang lebih banyak tak mampu membaca “isyarat”Nya dan akhir tenggelam dalam dosa-dosa mereka.

Transparan

Baru-baru ini saya membaca kasus bunuh diri dua kakak beradik yang loncat dari sebuah apartemen. Entah apa masalahnya yang mengakibatkan mereka memilih jalan nekat seperti itu, yang jelas masalahnya mesti demikian berat sehingga tak lagi mereka rasa dapat ditanggung dan hanya dapat selesai dengan kematian. Yang luar biasa adalah ada yang sempat merekam momen mereka berdua meloncat dari apartemen dan meng-uploadnya ke jejaring sosial sehingga video tersebut menjadi viral.
 
Tindakan tersebut mengingatkan saya kepada film The Circle yang dibintangi aktor senior Tom Hank. Film yang bercerita tentang transparansi di segala bidang, termasuk bidang kehidupan. Bahwa privasi adalah penghambat dan pengetahuan akan segala sesuatu adalah segalanya. Maka, Mae Holland (yang diperankan oleh Emma Watson), salah seorang karyawannya, berhasil dibujuk untuk mengenakan kamera kecil untuk merekam segala aktivitasnya, real time.
 
Hasilnya adalah petaka demi petaka. Teman baik Mae harus tewas karena dikejar oleh drone yang “tadi”nya bertujuan untuk menemukkannya. Orang tuanyua menolak untuk melanjutkan program tersebut karena merasa privasi mereka terganggu. Demikian seterusnya sampai Mae sadar bahwa pengetahuan tanpa batas bukan segalanya.
 
Sebuah sindiran yang amat mengena untuk masa kini, dimana orang tergila-gila dengan informasi dan terus dibanjiri oleh informasi. Dimana orang merasa adalah kewajiban dirinya untuk menyiarkan semua hal, tapi lupa bahwa bahkan kebaikan sekalipun bisa menjadi keburukan jika disampaikan dengan cara yang salah atau kepada orang yang tidak tepat.

Fleksibel

lawHukum Islam itu asik. Bayangkan saja, selain wajib dan haram, kita diberikan gradasi hukum; ada sunnah yang berpahala jika dilakukan dan tak mendapat dosa ketika ditinggalkan; ada mubah yang artinya boleh dikerjakan; ada makruh yang sebaiknya ditinggalkan tapi tak mengapa jika memang ingin dilakukan. Gradasi ini menimbulkan fleksibelitas luar biasa dalam penerapan hukum Islam. Tujuannya? Agar tidak memberatkan umat dalam melaksanakan dan dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi dan situasi yang unik untuk tiap individu.

Adaptasi dan fleksibelitas luar biasa diajarkan langsung oleh Allah dalam berbagai firman-Nya. Kebolehan menjamak dan menqasar sholat bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh merupakan salah satu contoh. Begitu pula kebolehan berbuka bagi yang sakit dan dalam perjalanan. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah sendiri mengajarkan fleksibelitas tersebut dalam berbagai kasus, seperti dalam kasus dipebolehkannya tayammum untuk menggantikan mandi junub karena sulitnya mendapatkan air atau kondisi badan yang tidak memungkinkan.

Sayangnya, kadang kita terjebak dengan pandangan “makin berat makin banyak pahalanya” dan “makin ketat maka makin sempurna suatu ibadah”. Pandangan yang membuat seakan Allah amat butuh dengan ibadah hamba-Nya; padahal yang amat membutuhkan ibadah dan segala macam ritual itu adalah hamba-Nya; bukan Dia yang suci dari segala ketergantungan. Lebih jauh lagi, tanpa disertai dengan pemahaman akan fleksibelitas hukum, pandangan tersebut dapat ditunggani nafsu sehingga membuat diri menjadi merasa lebih baik dalam beribadah ketimbang orang lain; merasa harus beribadah dengan ketat tanpa menimbang kondisi dan situasi; dan kemudian secara tak langsung menolak kemurahan dan kasih sayang Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang dicurahkan melalui berbagai pemakluman dalam pelaksanaan hukum. Semoga Allah berkenan menambahkan ilmu dan pemahaman kepada kita semua.

Note:

Tulisan ini adalah saduran dari kitab: Fathul Qarib al-Mujib fi Syarhil al-Faadz at-Taqrib karya Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Qasim bin Muhammnad al-Ghazi (1455—1512 M/859—918 H). Dengan demikian, seluruh yang ditulis dalam kitab ini adalah pandangan/fatwa fiqh dari madzhab Syafi’i saja.

Karena saduran, maka apa yang ada dalam tulisan ini bukan merupakan terjemahan murni dari kitab yang bersangkutan (sudah tercampur dengan bahasa dan pemahaman dari penerjemah/penyadur). Dengan segala kerendahan hati, saya mohon diinformasikan jika ada kesalahan pemahaman atau penerjemahan dalam karya ini.

Semoga bermanfaat dan silahkan disebar tanpa perlu izin kepada saya. Wa’allhu ‘alam bi shawab.

A.K. Anwar

Continue reading